Wednesday, March 18, 2026

KEUTAMAAN SHOLAT TASBIH

 

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bacaan tasbih



🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

Sholat Tasbih adalah sholat sunnah 4 rakaat (siang 1 salam, malam 2 salam) yang diselipkan bacaan tasbih sebanyak 300 kali. Bacaan tasbih: Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahu akbar (ditambah wa la hawla wa la quwwata illa billahil 'aliyyil azhiim menurut sebagian ulama). Tasbih dibaca 75 kali per rakaat: 15 kali saat berdiri (setelah baca surat), 10 kali di ruku', i'tidal, sujud pertama, duduk antara dua sujud, sujud kedua, dan duduk istirahat.

Tata Cara Sholat Tasbih (4 Rakaat):
Niat:
Siang Hari: "Ushalli sunnatat tasbihi arba'a raka'atin lillahi ta'ala" (4 rakaat 1 salam).
Malam Hari: "Ushalli sunnatat tasbihi rak'ataini lillahi ta'ala" (2 rakaat 1 salam, diulang 2 kali).

Rakaat Pertama:
Takbiratul ihram, doa iftitah, Al-Fatihah, dan surat pendek (disunnahkan At-Takatsur atau Al-A'la).
Baca tasbih 15 kali sebelum ruku'.
Ruku': Baca doa ruku' (3x), lalu baca tasbih 10 kali.
I'tidal: Bangkit, baca doa i'tidal (3x), lalu baca tasbih 10 kali.
Sujud Pertama: Baca doa sujud (3x), lalu baca tasbih 10 kali.
Duduk di Antara Dua Sujud: Baca doa duduk (3x), lalu baca tasbih 10 kali.
Sujud Kedua: Baca doa sujud (3x), lalu baca tasbih 10 kali.
Duduk Istirahat: Duduk sebelum berdiri, baca tasbih 10 kali.

Rakaat Kedua-Keempat:
Ulangi urutan rakaat pertama hingga duduk istirahat.
Total tasbih per rakaat adalah 75 kali.

Tasyahud Akhir: Setelah membaca tasyahud akhir dan sebelum salam, baca tasbih lagi 10 kali.
Salam.


*Jika lupa membaca tasbih pada salah satu posisi, tasbih bisa ditambahkan pada posisi sujud berikutnya atau sebelum salam.


🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

Sholat tasbih adalah salat sunah istimewa yang dianjurkan Rasulullah SAW, minimal sekali seumur hidup, dengan keutamaan utama menghapus seluruh dosa—baik dosa awal-akhir, lama-baru, tidak sengaja-sengaja, maupun kecil-besar. Selain itu, salat ini bermanfaat menambah timbangan amal kebaikan, memberikan ketenangan jiwa, dan menjanjikan kebun kurma di surga.
Berikut adalah rincian manfaat dan keutamaan sholat tasbih:


Penghapus Segala Dosa: Menghapus dosa meskipun sebanyak buih di lautan.
Timbangan Amal Baik: Memberatkan timbangan amal kebaikan di akhirat.
Pahalanya Sangat Besar: Mendapatkan pahala yang agung dan tidak terputus.
Jaminan Surga: Memperoleh kebun kurma di surga.
Ketenangan Jiwa: Menghilangkan kegelisahan, kecemasan, dan penyakit hati.
Kemudahan Urusan: Memudahkan urusan dunia dan akhirat serta melancarkan rezeki.
Peningkat Iman: Meningkatkan ketakwaan, rasa syukur, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Sholat ini dilakukan sebanyak 4 rakaat dengan total 300 bacaan tasbih, dan sangat dianjurkan untuk dikerjakan.


🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

Shalat tasbih adalah salah satu shalat yang dipandang oleh para ulama memiliki keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang mengamalkannya. Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan, bahwa sebagian dari kemuliaan umat Nabi Muhammad adalah Allah mengkhususkan shalat tasbih bagi mereka.

 shalat tasbih tersurat dalam sebuah hadits yang banyak dijadikan rujukan para ulama dalam menetapkan status hukum shalat tasbih. Hadits tersebut—salah satunya—diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud sebagai berikut:

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - أَنَّ «النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: " يَا عَبَّاسُ! يَا عَمَّاهُ! أَلَا أُعْطِيكَ؟ أَلَا أَمْنَحُكَ؟ أَلَا أحبوكَ؟ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ؟ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ، غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ: أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ، قُلْتَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمْرِكَ مَرَّة 

Artinya: “Dari Abdullah bin Abbas radliyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abbas bin Abdul Muthalib, “Wahai Abbas, pamanku, tidakkah aku memberimu? Tidakkah aku memberi tahumu? Tidakkah aku lakukan kepadamu? Sepuluh perkara bila engkau melakukannya maka Allah ampuni dosamu; yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tak dilakukan karena kesalahan dan yang disengaja, yang kecil dan yang besar, yang sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan. Lakukanlah shalat empat rakaat, pada setiap rakaat engkau membaca Al-Fatihah dan surat lainnya. Ketika engkau telah selesai membaca di rakaat pertama dan engkau masih dalam keadaan berdiri engkau ucapkan subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar lima belas kali. Kemudian engkau ruku’, ucapkan kalimat itu sepuluh kali saat kau ruku’. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’ (i’tidal), engkau baca kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau turun bersujud, kau baca kalimat itu sepuluh kali dalam bersujud. Kemudian engkau angkat kepalamu dari bersujud, egkau baca kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau bersujud (yang kedua), engkau baca kalimat tu sepuluh kali. Kemudian engkau angkat kepala, engkau baca kalimat itu sepuluh kali. Itu semua ada tujuh puluh lima dalam setiap rakaat. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. 

Bila engkau mampu melakukannya setiap sehari sekali maka lakukanlah. 

Bila tidak maka lakukan setiap satu jum’at sekali. 

Bila tidak maka setiap satu bulan sekali. 

Bila tidak maka setiap satu tahun sekali. 

Bila tidak maka dalam seumur hidupmu lakukan sekali.” 

Secara tekstual dari hadits di atas Rasulullah telah menjelaskan keutamaan yang begitu besar dalam shalat tasbih. Dengan empat rakaat shalat tasbih semua dosa yang dilakukan oleh orang yang mengamalkannya diampuni oleh Allah. Ini bisa disimpulkan dari ungkapan Rasulullah yang memerinci secara detail sifat-sifat dosa yang diampuni; awal dan akhir, sengaja dan tidak sengaja, kecil dan besar, sembunyi dan terang-terangan. Bahkan Sayid Muhammad Al-Maliki menyebutkan bahwa dosa besar pun dapat terampuni hanya dengan melakukan shalat tasbih ini. Hanya saja beliau juga menggarisbawahi bahwa pengampunan itu apabila pelaksanaan shalat tasbih tersebut dibarengi dengan pemenuhan syarat-syarat bertobat yang terdiri dari istighfar (meminta ampun), penyesalan, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi. Dalam kitab Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah Sayid Muhammad Al-Maliki menyatakan:

 يدل بظاهره على ان الكبائر تغفر بمجرد فعل هذه الصلاة. وهو محمول على ما اذا اقترنت ببقية شروط التوبة من الاستغفار والندم والعزم على عدم العود 

Artinya: “Secara dhahir hadits itu menunjukkan bahwa dosa-dosa besar terampuni hanya dengan melakukan shalat tasbih ini. Itu bisa dipahami apabila shalat tasbih itu dibarengi dengan syarat-syarat bertaubat yang terdiri dari memohon ampunan, menyesali, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi.” (Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki, Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah, 1985, tanpa penerbit, hal. 101) Hanya saja—masih menurut beliau—dosa-dosa yang diampuni ini tidak mencakup dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak sesama hamba, hanya dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-haknya Allah saja. Besarnya keutamaan shalat tasbih juga bisa dilihat dari kalimat Rasulullah dalam menganjurkan melakukan shalat sunah ini. Secara runtut beliau menganjurkan agar shalat tasbih ini dilakukan sehari sekali, bila tidak mampu maka seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, hingga setidaknya sekali seumur hidup. Imam As-Subki—sebagaimana dikutip Al-Haitami—menyatakan bahwa tidaklah orang yang mendengar tentang keutamaan shalat tasbih namun ia meninggalkannya (tidak melakukannya) kecuali orang itu adalah orang yang merendahkan agama (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut, Darul Fikr, tt., hal. 203). Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Monday, March 9, 2026

CAHAYA DI ATAS CAHAYA

 

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Surah An Nur Ayat35

۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ
كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ ۝٣٥

Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Surah An-Nur Ayat 35


Surah An-Nur Ayat 35 adalah salah satu ayat dalam Al-Quran yang mengandungi kiasan indah mengenai cahaya Allah.

🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

Cahaya di sini adalah petunjuk, kesadaran, dan kehidupan batin yang membuat manusia mampu membedakan gelap dan terang dalam dirinya.
Makrifat bukan tentang melihat cahaya dengan mata terpejam, bukan pula mengejar kilatan warna saat meditasi.
Makrifat adalah ketika seseorang
menjadi terang dalam sikapnya. Ketika hatinya tidak lagi penuh kebencian.
Ketika lisannya lembut.
Ketika tindakannya membawa damai.
Di situlah cahaya bekerja.
Banyak orang terjebak ingin "melihat".
Padahal yang lebih penting adalah menjadi yang melihat.
Karena cahaya llahi tidak selalu hadir sebagai visual,
tetapi sebagai kejernihan batin yang membuat manusia sadar
bahwa hidup ini bukan miliknya sepenuhnya.
Dalam tafsir lahir, cahaya adalah iman.
Dalam tafsir batin, cahaya adalah kesadaran.
Namun dalam hakikat terdalam, cahaya adalah rahmat yang membuat manusia tetap manusia.
Penyaksian bukan tontonan spiritual.
la bukan panggung pengalaman untuk diceritakan.
Penyaksian sejati terjadi ketika seseorang berhenti merasa paling tahu,
lalu mulai merasa paling perlu tuntunan.
Orang yang benar-benar disentuh cahaya biasanya tidak banyak bicara tentang dirinya.
la lebih banyak mendengar.
Lebih banyak mengalah.
Lebih banyak memaafkan.
Karena cahaya Ilahi tidak membuat manusia tinggi, tetapi membuatnya tunduk.
Makrifat bukan perjalanan menuju sensasi,
melainkan perjalanan menuju kesederhanaan.
Bukan mencari keajaiban di luar, tetapi menemukan kejernihan di dalam.
Surat An-Nur ayat 35 seperti cermin besar.
la tidak menampilkan wajah Tuhan, tetapi memantulkan wajah hati manusia. Semakin bersih hati itu, semakin jernih pantulannya. Semakin keruh, semakin gelap bayangannya.
Maka yang perlu dijaga bukanlah mata agar bisa melihat cahaya, tetapi hati agar layak diterangi.
Cahaya Ilahi tidak memilih orang paling pintar,
tidak pula orang paling lama. ibadahnya.
la memilih hati yang mau dibersihkan.
Hati yang mau mengakui salah. Hati yang tidak merasa paling sampai.
Makrifat bukan akhir perjalanan.
la adalah cara berjalan.
Hakikat bukan gelar.
la adalah kejernihan memandang hidup.
Ketika seseorang berhenti mengejar cahaya
dan mulai memperbaiki akhlaknya, di situlah cahaya datang tanpa dipanggil.
Karena Nur bukan untuk dipertontonkan.
Nur untuk menuntun.
Bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk menghidupkan.
Dan saat cahaya itu benar-benar menyentuh,
yang berubah bukan cara berbicara tentang Tuhan, melainkan cara memperlakukan sesama makhluk 
Itulah tanda paling nyata dari makrifat:
bukan mata yang melihat terang, tetapi jiwa yang menjadi terang.



🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲


“Cahaya di atas cahaya” merujuk kepada lapisan cahaya yang berlipat ganda, menggambarkan kecemerlangan dan kesempurnaan petunjuk Allah. Ini menunjukkan bahawa hidayah Allah adalah berterusan dan berlapis-lapis, memberikan lebih banyak cahaya dan pengetahuan kepada mereka yang terpilih untuk menerimanya.

Allah memberikan hidayah kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan ini menandakan bahawa penerimaan cahaya ini adalah satu bentuk kurniaan dan rahmat dari Allah. Hanya mereka yang dikehendaki-Nya akan mendapat manfaat sepenuhnya dari hidayah ini, dan ini adalah satu keistimewaan yang besar.
Bagaimana Ayat Ini Menggambarkan Kekuatan Hidayah Allah?

Ayat ini menggambarkan bahawa hidayah Allah adalah sangat kuat dan berkesan. Hidayah ini diumpamakan seperti lampu yang menyala dengan terang, memberikan cahaya yang jelas dan panduan yang kukuh. Dengan cahaya ini, seseorang dapat melihat jalan yang benar dan menghindari kegelapan kesesatan.

Allah menggunakan pelbagai perumpamaan untuk memudahkan manusia memahami kebesaran dan keagungan hidayah-Nya. Ayat ini menekankan bahawa Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia yang menentukan siapa yang layak menerima hidayah-Nya.
Apakah Pelajaran Utama dari Surah An-Nur Ayat 35?

Pelajaran utama dari ayat ini adalah pentingnya cahaya hidayah Allah dalam kehidupan manusia. Ia mengingatkan kita bahawa tanpa hidayah Allah, manusia akan berada dalam kegelapan dan kebingungan. Cahaya Allah adalah sumber petunjuk dan pengetahuan, yang membimbing kita ke jalan yang benar.

Selain itu, ayat ini juga mengingatkan kita tentang kebergantungan kita kepada Allah untuk mendapatkan hidayah. Hanya dengan rahmat dan kurnia Allah, kita dapat menerima dan memahami cahaya-Nya. Oleh itu, kita perlu sentiasa berdoa dan berusaha untuk mendapatkan hidayah ini dalam kehidupan kita.


Tafsiran berikut adalah berdasarkan daripada terjemahan kitab-kitab:
Ibn Juzayy: at-Tashil fi 'ulum al-Qur'an
Jalalayn: Tafsir al-Jalalayn
As-Sawi: Hashiya (huraian terhadap Jalalayn)
Ibn Kathir: Mukhtasar Tafsir Ibn Kathir
Al-Qurtubi: Jam' li-Ahkam al-Qur'an
Al-Burusawi: Tafsir Ruh al-Bayan


1. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.

Ibn Juzayy: Cahaya masing-masing ditujukan kepada realiti -cahaya yang dapat dilihat oleh mata-, dan juga satu metafora bagi maksud yang dapat difahami oleh hati. "Tiada yang sama dengan Allah."Jadi pentafsiran ayat ini ialah Allah adalah Pemunya cahaya langit dan bumi, dan Dia menjelaskan DIRINya sebagai cahaya seperti jika anda berkata, "Pemurah itu adalah Zayd." apabila anda hendak menekankan fakta yang dia (Zayd) adalah seorang yang pemurah. Jika Allah memaksudkan cahaya itu adalah yang dapat dilihat oleh mata, maka maksud bagi "cahaya langit dan bumi" ialah yang Dia menjadikan cahaya yang mengandunginya-matahari, bulan dan bintang, atau Dia menjadikan semuanya dan membawanya ke dalam kenyataan daripada tiada. Jadi semuanya terbentuk olehNYA sebagai terbentuk oleh cahaya. Dalam maksud ini, 'Ali bin Abi Talib membaca ayat ini sebagai, "Allahu nawwara" (bentuk kedua) bermaksud Dia memasukkan cahaya ke dalamnya.

Jika dengan cahaya Dia memaksudkan cahaya yang dapat dilihat dengan hati, erti cahaya langit dan bumi ialah Dia meletakkan cahaya ini kedalam hati orang-orang langit dan bumi. Inilah kenapa Ibnu Abbas berkata," Maksudnya ialah Petunjuk orang-orang langit dan bumi."

Al-Qurtubi: Dari segi metafora atau perumpamaan, orang-orang Arab berkata bahawa, "Ayat-ayatnya mempunyai cahaya" dan "Kitab yang menerangi (lisan, mengeluarkan cahaya)." Dibolehkan, jika dikatakan bahawa Allah adalah cahaya untuk memujiNYA kerana Dia telah membawa benda-benda kedalam kenyataan, dan Dia memula dan mengasalkan cahaya semua benda-benda. Tetapi Dia bukannya satu cahaya fizikal yang boleh ditelah dengan deria. Pun bagitu, Rasullullah s.a.w pernah ditanya, "Pernahkah kamu melihat Tuhan kamu?" dan baginda menjawab,"Aku nampak Dia sebagai Cahaya."

Sebagai suatu petunjuk, Ubayy ibn Ka'b dan lain-lain berkata," Dia menghiasi segala langit dan bumi dengan matahari, bulan dan bintang, dan Dia menghiasi bumi dengan para nabi, ulama' dan yang beriman."

Ibn Kathir: Anas ibn Malik berkata bahawa Allah berfirman, "CahayaKu adalah petunjuk." Ubayy ibn Ka'b berkata dengan merujuk kepada yang beriman yang mana dada Allah telah memasukkan kepercayaan dan Al-Quran.

Jalalayn: Allah meneranginya dengan matahari dan bulan.

as-Sawi: Ketahuilah bahawa realiti cahaya, samaada ditelah oleh mata atau benda-benda yang nampak dengan mengunakannya, menyerupai mutu yang sinaran daripada dua sumber cahaya terhadap objek yang mampat. Maksud ini tidak boleh disamakan dengan atau kepada Allah.

Ayat ini juga dikatakan bermaksud bahawa Allah adalah Pencipta segala cahaya di langit oleh matahari, bulan, bintang-bintang, Arasy dan malaikat, dan di bumi oleh lampu-lampu, cahaya, lilin. Para nabi-nabi, para ulama' dan mereka yang benar. Ini bermaksud Dia menerangi mereka. Ia dikatakan bahawa Dia menampakkan segala di langit dan di bumi kerana istilah cahaya memberi maksud menifestasi. Maksud seperti ini boleh dikaitkan kepada Allah Yang Maha Kuasa memandangkan Dia membuat benda-benda 'lahir' daripada tiada.Ibn 'Ata' berkata dalam Hikam, "Peristiwa kejadian disebut dan gelap gulita. Kenyataan yang sebenar dalam sesuatu yang memberikan cahaya" - (klik untuk rujukan hadith berkaitan). Jadi, alam semesta wujud kerana Allah yang memberi kewujudannya. Jika tidak dengan keWujudan Allah, tiada daripada alam semesta ini akan wujud.



2. Perumpamaan cahayaNya, adalah seperti suatu keluk, yang di dalamnya ada pelita.

Ibn Juzayy: Kedudukannya ialah pada suatu lobang pada suatu dinding yang bukannya suatu tingkap, dan lampu itu mengeluarkan satu cahaya yang kuat. Ia juga dikatakan bahawa kedudukan ini adalah pelantar di atas suatu tiang dimana lampu ini terletak. Pendapat yang pertama adalah lebih kukuh dan masyhur. Maksudnya ialah sifat cahaya dari Allah ialah ia jelas seperti suatu tempat yang mempunyai lampu memandangkan ia adalah yang paling jelas seseorang makhluk dapat bayangkan cahaya dan sinarnya. Ia disepertikan kepada suatu tempat, walaupun cahaya dari Allah lebih kuat lagi kerana ia adalah had yang manusia dapat menelah berkenaan cahaya. Dia membuat perumpamaan kepada mereka mengikut apa yang mereka dapat terima.

Telah dikatakan bahawa gantinama bagi "CahayaNya" merujuk kepada Saidina Muhammad s.a.w, dan ia dikatakan sebagai merujuk kepada Al-Qur'an, dan terhadap mereka yang beriman. Kenyataan-kenyataan ini adalah lemah kerana tiada yang mendahului gantinama ini yang ia boleh dirujuk. Jika ditanya: Bagaimana ia boleh diterima yang Allah boleh dikatakan 'Cahaya langit dan bumi' sementara Dia sendiri yang menyatakan bahawa Dia adalah Cahaya dan kemudian Dia yang meletakkan cahaya terhadap DiriNya dalam firmanNya, "perbandingan CahayaNya" maka membuat yang dikaitkan itu sama dengan yang dikaitkan? Jawapannya ialah ia boleh diterima dengan tafsiran yang kita telah sebut berkenaan Allah sebagai Pemunya cahaya segala yang dilangit dan dibumi, atau dicontohkan seperti dikatakan, " Pemurah itu adalah Zayd," dan kemudian kita berkata bahawa orang diingatkan akan sifat pemurah itu oleh Zayd.

Al-Qurtubi: Dia memaksudkan mutu dari bukti-buktiNya yang Dia masukkan kedalam hati-hati mereka yang beriman, dan bukti-bukti inilah yang dinamakan 'cahaya'. Allah menyebut KitabNya suatu cahaya dalam firmanNya, Kami turunkan suatu cahaya yang jelas kepada kamu,"(4:174)Dia juga menyebut RasulNya cahaya dimana Dia berfirman, "Telah datang suatu cahaya kepada kamu dari Allah dan Kitab yang nyata." (5:15) Ini adalah kerana Kitab itu membimbing dan menjelaskan, seperti juga Rasullullah. Satu sebab yang ia dikaitkan kepada Allah ialah kerana Dia yang membuat bukti itu kukuh dan menjelaskannya.

Terdapat satu lagi pengertian bagi ayat ini dimana ayat yang kedua itu menyerupai ayat yang pertama jika cahaya diambil bermaksud sebagai petunjuk dan kesempurnaan sinaran sebagai keterangan dan bukti-bukti dari Allah dalam kejadianNya. Gantinama "cahayaNya" boleh juga dirujuk kepada mereka yang beriman.

Jalalayn: "Perbandingan Cahaya-Nya" bermaksud mutu cahaya dalam hati mereka yang beriman.


3. Pelita itu di dalam kaca

Ibn Juzayy: Lampu itu adalah sumbu dengan apinya. Maksudnya ia adalah di dalam lampu yang diperbuat dari kaca kerana cahaya di dalamnya menjadi lebih terang kerana lampu itu mempunyai badan yang telus.

Ruh al-Bayan: Tujuan lampu ini di dalam kaca dan kaca ini di dalam suatu 'geluk' atau 'lekuk' supaya apabila diletak pada tempat yang lebih tersekat, cahayanya menjadi lebih tertumpu sinarnya (terang). Jika lampu itu diletak pada tempat yang terbuka, maka cahayanya akan tersebar (malap).

4. kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara,

Ibn Juzayy: Perumpamaan kaca itu mengeluarkan cahaya seperti bintang yang memancar. Itu boleh mempunyai dua pengertian. Samaada Dia bermaksud ia mengeluarkan cahaya kerana lampu yang ada di dalamnya , atau Dia memaksudkan ia dengan sendirinya adalah kuat dengan cahaya kerana ketulinannya dan kesempurnaan bentuknya. Ini lebih sesuai kerana ia mengabungkan cahayanya dengan cahaya dari lampu itu sendiri.

Dengan 'bintang yang menyilau', Dia bermaksud satu daripada cakerawala yang bercahaya seperti Jupiter, Venus, dan Zuhal atau sepertinya. Ia telah dikatakan bahawa Dia bermaksud Venus, tetapi tiada petanda kepada yang khusus seperti ini (dalam Al-Quran). Nafi' membacanya sebagai durriyyun. Pembacaan ini boleh bermaksud bahawa bintang itu di umpamakan kepada durr (mutiara) oleh keputihannya dan ketulinannya. Ia juga dibaca dengan hamzah yang di ambil dari dar', bermaksud ditolak (ie. bintang-bintang yang ditolak dari satu tempat ke satu tempat yang lain).


Al-Qurtubi: Ka'b al-Ahbar membuat keseluruhan ayat ini merujuk kepada Muhammad s.a.w, ie, perumpamaan kepada cahaya Muhammad (Nur Muhammad). Rasullullah s.a.w adalah tempatnya, kaca itu adalah hatinya, pokok yang berkah itu adalah wahyu dan malaikat yang membawanya, minyak itu adakah bukti dan kenyataan yang terkandung dalam wahyu.


Jika ia diambil sebagai bermaksud mereka yang beriman, seperti yang di perkatakan oleh Ubayy, maka tempat itu ialah dadanya, lampu itu adalah keimanan dan pengetahuan, kaca itu adalah hatinya, dan minyak itu adalah bukti dan kenyataan yang ia kandungi.

Jalalayn: "Menyilau" bermaksud ia membuang kegelapan. Perkataan ini di ambil dari 'mutiara' kerana keasliannya.


5. yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun


Ibn Juzayy: Ia dibaca sebagai yuqadu dan tawaqqada dalam nahu selepas. Nama merujuk kepada lampu itu. Jika ia dibaca sebagai tuqdau dalam nahu semasa maka ia merujuk kepada kaca itu. Ia bermaksud bahawa ia adalah seperti minyak dari pokok yang di limpah rahmat. Ia telah dinyatakan sebagai 'diberi rahmat' kerana betapa banyaknya kelebihan padanya dan bukan kerana ia ditanam pada tanah yang diberi rahmat, iaitu di Syria.


Al-Qurtubi: Ini boleh juga diambil sebagai merujuk kepada para Ambia, dimana bagi Adam a.s akan bermaksud pokok yang diberi rahmat, atau Ibrahim a.s kerana Allah mengelarnya 'yang diberi rahmat.'


6. tidak tumbuh disebelah timur dan tidak pula disebelah barat,



Ibn Juzayy: Telah dikatakan ia adalah di Syria, jadi ia tidak disebelah barat maupun disebelah timor. Zaitun terbaik adalah zaitun dari Syria. Ia telah dikatakan ia terdedah dan matahari menyinarinya sepenuh hari, maka ia tidaklah keseluruhannya dari timor untuk mengatakan ia adalah ketimoran maupun dari barat untuk mengatakan kebaratan. Sebaliknya ia adalak ketimoran dan kebaratan kerana matahari beredar mengelilinginya dari timor ke barat. Ia dikatakan bahawa ia adalah pokok yang menengah yang tinggi yang tidak menyondong ke timur maupun ke barat. Ia telah dikatakan ia adalah suatu pohon dari Syurga yang mana, jika ia adalah dari dunia ini, semestinya condong kebarat ataupun ke timur, untuk menekankan ketulinan dan keunggulan.

7. yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

Ibn Juzayy: Untuk menekankan penjelasan terhadap keaslian dan keistimewaannya.

Ibn Kathir: Ibn 'Abbas pergi kepada Ka'b al-Ahbar dan berkata, "Beritahu aku berkenaan FirmanNya, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api" Dia berkata, "Muhammad hampir menampakkan semua perkara dengan terang kepada orang ramai tanpa perlu menyatakan bahawa dia adalah seorang nabi, hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api."


Atau bukti dari Al-Quran hampir membuat semua perkara itu jelas sebelum ia di bacapun
melihat dengan cahaya dari Allah."

4.0 Penutup
Tafsiran yang dkemukakan oleh kelima-lima pentafsir yang dibentangkan di atas seakan-akan bersetujuan dan ada yang tidak. Ini membawa implikasi terhadap kewibawaan para pentafsir itu sendiri, tidak kira mana yang sebenarnya betul ataupun salah. Ini adalah kerana sejarah keIslaman telah menerima bahawa kelima-lima ini adalah antara pentafsir yang paling ulung dalam bidang ini. Bagaimana mungkin mereka boleh bercanggah pendapat dalam cuma menghuraikan baru satu ayat? Bagaimana pula implikasinya terhadap huraian mereka terhadap ayat-ayat lain dan Al-Quran seluruhnya?


Pandangan yang cetek ini juga boleh membuat mereka yang bertanggapan sedemikian mengambil kesimpulan yang tidak kurangnya cetek juga. Ini boleh melalut-lalut kepada memandang tafsiran dan pentafsirnya sebagai lemah, atau para pentafsiran Al-Quran adalah tidak sehaluan, tetapi sebaliknya tanggapan seperti ini yang sebenarnya lemah dan melemahkan umat Islam itu sendiri. Maka timbullah golongan yang cuba memberi tafsiran sendiri tanpa menghormati kematangan perkembangan sejarah Islam sejumlah 1400 tahun itu. Cetek dan kurang matang golongan seperti ini yang telah melemahkan umat Islam sekarang kerana tidak berupaya untuk melihat kematangan Islam yang sebenarnya.


Pandangan para pentafsir di atas sebenarnya mempunyai titik pertemuan di antara satu sama lain dan mempunyai kedudukan dan tempatnya yang tersendiri dalam pentafsiran ayat berkenaan. Tiap-tiap pandangan mereka sebenarnya tidak bercanggah dan dijelaskan dengan bagitu matang dan mendalam sekali oleh Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali pada Misykatul Anwar

Saturday, November 9, 2024

💐HATI CERMINAN DIRI💐

 ﷽ اَلسَّــلَامُے عَلَيْڪُمُے وَرَحْمَۃُ اللّٰہِ وَبَرَڪَاتُہُ ﷽

ﷻ بِسْـــــــمِے اللّٰہِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْـــــــمِے ﷻ

ﷺ اَللّٰہُمَّے  صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍﷺ

﷼ آمِيْنَ اَللّٰہُمَّے آمِيْنَ يٰارَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ﷼


┈•┈┈•⊰✿💐HATI CERMINAN DIRI💐✿⊱•┈┈•┈┈•••


Hati ibarat raja di dalam anggota tubuh, 

Semua organ tubuh, tunduk pada perintah nya. 

Dimana kaki yg melangkah, tangan yang bergerak, mulut yang bicara, semua berdasarkan keinginan hati... 

 

Hati manusia sangat sukar ditebak,, 

Ada pepatah mengatakan "DALAM NYA SAMUDERA DAPAT DI SELAMI,  TETAPI DALAM NYA HATI TIDAK DAPAT DI PAHAMI".


Sedekat apapun kita dengan seseorang, kita tak akan pernah tau isi di hatinya.. 

Kita cukup menghargai orang lain, tanpa harus selalu ingin tau apa yang ada di hatinya. 


Hati memang tidak terlihat, namun apa yg dilakukan seseorang adalah cerminan dari isi hatinya.. 


Hati memiliki peran yang penting, 


Bahkan Allah menilai kita bukan, karena paras atau   harta, akan tetapi Allah menilai kita berdasarkan apa yang ada di dalam hati kita. 

Dan segala amal yang kita lakukan, tergantung  pada niat di hati.... 


Maka jagalah selalu hati kita, supaya tidak terjangkit penyakit hati , yang akhirnya membahayakan diri sendiri... 


Rawat hatimu dengan memperbanyak berdzikir dan bersholawat, sesungguhnya dzikir dan sholawat, dapat mendatangkan ketenangan hati.. 


Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit hati. 

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحب وسلم

DELAPAN HATI BAIK YANG ADA DI DALAM AL- QUR'AN


╔📕﷽📗■□━━━━━┓

    *HADITS HARI INI* 🍃🌺

         

DELAPAN HATI BAIK YANG ADA DI DALAM AL- QUR'AN


Dalam tubuh manusia 

Ada segumpal daging. 

Kalau daging itu baik, 

maka seluruh tubuhnya baik 

Namun bila segumpal daging itu buruk 

maka seluruh tubuhnya buruk. 


Ketahuilah bahwa 

Segumpal daging tadi adalah hati.


Di dalam AL- Qur'an 

kita bisa menemukan 

8 macam hati yang baik 

yaitu :


القلبُ السَّلِيْمْ :

وهو مخلص لله وخالٍ من الكفر والنفاق والرذيلة 

*﴿الشعراء: ٨٩﴾*

 

*1. Hati yang salim (suci)*

 

"Hati yang ikhlas dan kosong dari sifat kufur, munafik dan kotor"

(Asy-syuara : 89).


*القلبُ المُنِيْبْ :* 

وهو دائم الرجوع والتوبة 

إلى الله مقبل على طاعته 


*2. Hati yang munib (selalu inabah)*


"Hati yang selalu 

kembali dan tazkiyah 

taubat kepada Allah 

dengan selalu mengerjakan 

perintahNya. "

(Qaff : 33).

*القلبُ المُخْبِتْ :*

 *الخاضع المطمئن الساكن* . 

*{فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ }*

 *﴿الحج: ٥٤﴾* 


*3. Hati yang mukhbit (tunduk)*

     

"Hati yang selalu patuh merendah tenang dan lapang sakinah"

(Al-hajj : 54).


*القلبُ الوجِلْ :* 

وهو الذي يخاف الله عز وجل

 ألاَّ يقبل منه العمل وألاَّ يُنَجَّى من عذاب ربِّه.

*﴿المؤمنون: ٦٠﴾*

 

*4. Hati yang wajal (bergetar)*


"Hati yang selalu takut kalau tidak mengerjakan perintah-Nya dan takut tidak selamat dari azab"

(Al-mukminun : 60).


*القلبُ التَّقِّيْ :*

 *وهو الذي يعظِّم شعائِر الله*

 *﴿الحج: ٣٢* 


*5. Hati yang taqiy (bertaqwa)*


"Hati yang selalu mengagungkan syiar Allah"

(Al-hajj : 32)


*القلبُ المَهْدِي :*

 *الرَّاضي بقضاء الله والتَّسليم بأمره* .

 *{ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ }* 

*﴿التغابن: ١١﴾* 


*6. Hati yang mahdiy (diberi hidayah)*


"Hati yang selalu ridho 

dengan takdir Allah dan 

berserah atas perkara nya."

(At-Taghabun : 11)


*القلبُ المُطْمَئِنْ :* 

*يسكن بتوحيد الله وذكره*

 *{ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ }* 

*﴿الرعد: ٢٨﴾* 


*7. Hati yang muthmainnah (tenang)*


 "Hati yang selalu mantap 

dengan ke Esaan Allah 

Dan terus berdzikir".

(Ar-ra'ad : 28).


*القلبُ الحَيَّ :* قَلْب يَعْقِل مَا قَدْ سَمِعَ مِنْ الْأَحَادِيث الَّتِي 

ضَرَبَ اللَّه بِهَا مَنْ عَصَاهُ مِنْ الْأُمَم .

 ﴿ق: ٣٧


*8. Hati yang hayyu (hidup)*


"Hati yang kasyaf dari 

seluruh kejadian yang dialami 

oleh manusia"

(Qaaff : 37)


Semoga kita semua memiliki 

hati yang baik

Aamiin Yaa Robbal Aalamiin🤲

======================


𝐁𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡𝐮 𝐅𝐢𝐢𝐤𝐮𝐦..

         

        

Monday, September 4, 2023

Mujahadah & Istiqamah

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ



1. Allah SWT berfirman dalam Surah Hud, Ayat 112:
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ ١١٢
Maksud :
Oleh itu, hendaklah engkau (wahai Muhammad) sentiasa tetap teguh di atas jalan yang betul sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu...

2. Sufian bin Abdullah RA meriwayatkan bahawa beliau bertanya kepada Rasulullah SAW :

Maksud :
" Wahai Rasulullah SAW katakanlah kepadaku satu perkataan yang berkaitan tentang Islam yang aku tidak perlu bertanya kepada orang lain.
 Baginda berkata: 
" Ucapkanlah : 
Aku beriman dengan Allah SWT, 
kemudian beristiqamahlah kamu.

Mujahadah 
Bilamana seseorang berusaha membuat sesuatu amalan, terasa payah untuk melaksanakannya, ditekan-tekan nafsunya, dipujuk-pujuk hatinya, maka ianya termasuk dalam golongan orang yang bermujahadah. Berbuat amalan baik, terpaksa berhempas pula melawan nafsu. Sentiasa berusaha untuk membuat suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya. Orang mujahadah disebut juga sebagai orang soleh Pada satu peringkat, bila mujahadah dilakukan secara berterusan, dia dapat melepasi mujahadah itu.

Istiqamah
Apabila segala amalan telah menjadi suatu kebiasaan , adalah mudah untuk  melaksanakannya kerana sudah sebati dalam diri.
Di sini, dia sudah mendapat istiqamah. Istiqamah ini melayakkan dia menjadi orang bertaqwa. Itulah sebabnya Rasulullah ada menyebut, 
jangan kamu meminta menjadi wali, 
tetapi mintalah istiqamah, kerana istiqamah itu adalah sifat kewalian.

Jangan sangka kita boleh mendapat istiqamah tanpa mujahadah. Bermujahadah dulu, baru boleh layak dapat istiqamah. Mujahadah pula tidak boleh bersendirian, tanpa guru mursyid yang memberi panduan. Dibimbangkan mujahadah kita dicelahi syaitan, menggagalkan kita menjadi orang bertaqwa. Syaitan senantiasa menunggu peluang untuk mengganggu orang yang menuju kepada Allah. Itu sebabnya ada waktunya orang yang bermujahadah tewas.   Nak mujahadah, nak istiqamah, kena ada guru mursyid yang memandu dan menunjuk jalan. 
Kerana Rasulullah juga sudah berpesan, kalau kamu tidak dapat bersama Allah, hendaklah kamu bersama orang yang bersama Allah. Maksudnya di sini, hendaklah kamu bersama guru mursyid. Berdampinglah dengan orang2 soleh. Di samping itu, mujahadah akan lebih mudah bila bersama jemaah. Jemaah mengatur sistem kehidupan kita untuk menjadikan kita mudah bermujahadah untuk mencapai istiqamah. Tuntutan berjemaah ini memang menjadi tradisi . Kalaulah ada guru muryid, nescaya ada muridnya. Perhubungan guru dan murid-murid ini menjadikan mereka satu kelompok jemaah yang terbangun di dalamnya kehidupan Islam.

Apa yang boleh disimpulkan , 
orang yang mengusahakan taqwa 
adalah orang yang mengusahakan mujahadah
 untuk mendapat istiqamah


Ramai yang tahu dan mahu melakukan kebaikan tetapi tidak mudah untuk melaksanakannya. kerana kita sebenarnya sentiasa diburu malah dibelenggu oleh 2 musuh yang sentiasa mendorong ke arah kejahatan. Musuh itu ialah
syaitan dan hawa nafsu

Jika berdepan dengan musuh yang zahir, tidak ada jalan lain melainkan ‘berperang’ dengannya. Cuma berperang dengan musuh batin berbeza dengan musuh zahir, justeru musuh zahir dapat dilihat dan tipu dayanya dapat dinilai dengan akal dan mata.
Tegasnya, musuh zahir agak lebih mudah didekati daripada musuh batin.
 Perang melawan musuh batin khususnya hawa nafsu dan syaitan ini dinamakan mujahadah. Ia adalah peperangan yang jauh lebih hebat dari peperangan zahir.

Ini kerana medan peperangan kedua-dua musuh ini berlaku dalam diri  Serangan, tikaman dan ledakannya berlaku dalam diri kita. Walaupun tidak kedengaran dentumannya tetapi bisanya lebih berkesan. Justeru, ramai manusia yang mampu mengalahkan musuh zahir tetapi gagal mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Rasulullah S.A.W pernah bersabda yang maksudnya, mereka yang gagah bukanlah mereka yang dapat mengalahkan musuh zahirnya, tetapi adalah mereka yang dapat mengawal kemarahannya.Namun bukan mudah mengawal kemarahan justeru kemarahan adalah sifat buruk yang didalangi syaitan.

Syaitan adalah makhluk yang paling derhaka dan paling banyak menipu daya manusia. Bahkan sangat sedikit manusia yang berjaya mengatasi tipu dayanya. 
Dalam Al-Quran Allah menjamin orang yang tidak dapat ditipu daya oleh syaitan ialah mereka yang ikhlas.

Begitu juga dengan hawa nafsu, bukan mudah hendak dilawan kehendak dan hasutannya. Ini kerana nafsu itu adalah sebahagian daripada diri kita sendiri.

Bermujahadah melawan nafsu bererti berperang dengan diri kita sendiri. Apa yang di sukai oleh hawa nafsu akan disukai oleh diri kita sendiri. Hanya dengan ilmu yang tepat sahaja kita dapat menilai apakah kehendak itu baik atau jahat. Namun setakat tahu buruk atau baiknya belum cukup untuk kita mampu melaksanakan atau meninggalkan. Kita perlu bermujahadah secara berterusan

Syaitan tidak pernah tidur. Begitu juga nafsu, musuh yang tidak pernah tahu erti lesu. Sedikit sahaja kita terleka, pasti kita di tipu dan dihasutnya.

Ia adalah satu perjuangan yang tidak akan terhenti hingga malaikat maut mencabut nyawa , Malah, hingga ke saat nyawa kita hendak bercerai dari jasad pun, syaitan terus berusaha menipu daya kita. Bahkan pada saat itu, tipu dayanya lebih dahsyat kerana itulah peluang terakhir untuk menyesatkan manusia agar mati dalam keadaan tidak beriman.

Setiap dosa yang kita buat kerana termakan hasutan syaitan adalah umpama titik hitam pada hati. Makin banyak kita berdosa, makin gelaplah hati. Bayangkan kalau kita bermujahadah sekali sekala…. ia umpama mencuci pakaian yang sangat kotor sekali sekala.

Sudahlah jarang di cuci, kotoran yang terpalit makin banyak hari demi hari. Begitulah hati, jika malas ‘dibasuh’ dengan mujahadah, maka akan bertambah kotorlah ia hingga payah hendak dibersihkan. (lihat ubat hati 5 perkara di bawah) 

Oleh itu, satu prinsip asas dalam bermujahadah ialah istiqamah. Yakni konsisten, terus menerus dan berkesinambungan dalam ‘peperangan’ dengan syaitan dan hawa nafsu.
 Jika kita hanya bermujahadah tapi tidak istiqamah, maka mujahadah itu tidak akan memberi kesan.
Istiqamah adalah sifat terpuji sama seperti mujahadah.

Malah kedua-duanya merupakan gandingan mantap dalam setiap diri yang ingin menuju Allah.Istiqamah dari segi bahasa adalah tegak lurus. Yakni berdiri teguh di jalan yang lurus, berpegang pada akidah yang tepat dan melaksanakan syariat dengan tekun serta berakhlak baik secara konsisiten. Firman Allah : 
" Oleh yang demikian, maka ajaklah mereka dan berdirilah dengan lurus sebagaimana engkau di perintahkan, dan janganlah engkau turutkan kehendak nafsu mereka." 
(As-Syura :15)

Untuk beristiqamah dalam mujahadah,
kita perlukan keteguhan keyakinan (iman), 
penjagaan lisan dan kawalan tindakan.
Ingatlah, syaitan yang kita hadapi adalah makhluk kreatif yang sangat komited dengan azamnya untuk menyesatkan manusia. 
Hanya senjata mujahadah dan perisai istiqamah
mampu berdepan dengan mereka.

Hikmah Istiqamah
-Menzahirkan individu yang berakhlak mulia kerana melaksanakan kebaikan secara berterusan.
-Membentuk insan yang teguh pendirian dalam mempertahankan kebenaran.
-Memperkukuh jati diri dengan sifat sabar dan tidak berputus asa untuk berjaya.
-Memupuk sikap sanggup berkorban harta dan nyawa demi mempertahankan islam
-Membangunkan ekonomi kerana komitmen semua pihak untuk memajukan negara.
-Melahirkan sifat kebersamaan dalam masyarakat kerana sentiasa menjaga kepentingan bersama.

Cara Memiliki Sifat Istiqamah
-Sentiasa bermujahadah melawan hawa nafsu agar berterusan mengamalkan sifat mahmudah.
-Sentiasa berdoa memohon bantuan Allah SWT agar dapat melaksanakan segala suruhan dan meninggalkan larangannya secara berterusan.
-Sentiasa membaca dan mengambil iktibar daripada kisah para rasul yang istiqamah melakukan kebaikan.
-Sentiasa muhasabah diri agar ikhlas dan sabar dalam setiap tindakan.
-Sentiasa mempelajari ilmu dengan istiqamah supaya menjadi amalan dalam kehidupan.
-Sentiasa berkawan dengan rakan yang berdisiplin dalam melakukan kebaikan.


Hati
Hati yang dimaksudkan di sini ialah tempat bersemayamnya iman seseorang. Hati manusia dapat merasakan hal yang bersifat sedih, senang, gembira, serta perasaan lainnya.
Hati dikatakan sebagai sesuatu yang sarat akan misteri. Di mana orang berpenampilan baik tidak selamanya memiliki hati yang baik, begitu pula sebaliknya.

Dalam agama Islam sendiri, hati seorang Muslim dapat dihinggapi oleh berbagai macam jenis penyakit. Namun penyakit yang dimaksud bukan berkaitan dengan dunia medis melainkan penyakit hati seperti iri dan dengki, hasad, takabur, ujub, riya, dan lain sebagainya.

Islam meyakini bahwa segala penyakit ada obatnya yang datangnya dari Allah SWT begitu juga dengan penyakit hati. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Yunus ayat 57, Allah SWT berfirman, yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS Yunus : 57)

5 Ubat hati :

1. Membaca Alquran dan maknanya
Al quran adalah kitab suci agama Islam yang didalamnya memuat firman Allah SWT. Selain itu Alquran disebut sebagai pedoman hidup manusia.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 82, yang artinya: "Dan Kami turunkan dari Al quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan A lquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."


2. Mendirikan solat malam
Solat malam seperti halnya sholat tahajud memiliki banyak manfaat selain dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui doa yang dipanjatkan dapat membuat ketenangan bagi sesiapapun yang melaksanakannya.


3. Berkumpul dengan orang soleh

Jika ingin menjadi orang baik, bertemanlah dengan orang-orang baik. Begitu pula jika ingin menjadi orang salih, berkumpul lah dengan mereka yang soleh dan solehah.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Kahfi ayat 28, yang artinya: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka kerana mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."

4. Perbanyakkan puasa (selain yang wajib)
Berpuasa adalah salah satu ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Selain menahan lapar, haus dan hawa nafsu puasa juga bisa menghindari seseorang dari perbuatan tercela.

Ada puasa wajib di bulan Ramadhan serta yang hukumnya sunah seperti puasa Isnin Khamis, puasa Arafah, puasa Asyura, dan lain sebagainya.

5. Perbanyak zikir malam hari


Zikir yaitu mengingat Allah SWT dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Perintah untuk berzikir terdapat dalam Alquran surat Al-Ahzab ayat 41, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya."


Kredit :



Tuesday, May 16, 2023

Ketenangan atau kedamaian dalam Islam

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ



💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Dengarlah, hati menjadi tenteram hanya dengan mengingati Allah.”
( Surah  Ar-Ra’d -13 ayat 28 )

💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

Banyak perkara yang boleh menenangkan kita : daripada muzik kepada teater. Senaman dan ketawa boleh membantu kita endorfin dan sesetengah makanan boleh memberi kita keseronokan seketika. Tetapi apa yang kita lakukan apabila kita memerlukan ketenangan batin? Kedamaian dalaman yang boleh menghantar gelombang ketenangan dan ketenangan ke seluruh jiwa fizikal, mental dan rohani kita.

Setiap orang mempunyai cara mereka sendiri untuk mencari ketenangan batin tetapi sebagai seorang muslim, kita mendapatkan ketenangan melalui Allah (s.w.t) dan Islam. Terdapat sekumpulan ayat-ayat yang menenangkan di dalam Al-Quran yang akan membantu membimbing  sepanjang hidup kita. Dan berikut adalah antaranya:

 

🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

Zikir hasbi rabbi jallallah penenang 

🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲


“Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya” (2:286)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Perlu difahami bahawa setiap kesusahan yang kita hadapi dalam hidup adalah ujian dari Allah (s.w.t). Ia adalah ujian kesabaran, ketaqwaan dan tawakal kepada Allah (s.w.t). Dengan ujian dan cabaran itu, kita mesti menerapkan ayat Surah Al-Baqarah ini ke dalam kehidupan kita. Allah (s.w.t) tidak membebankan sesiapa pun dengan sebarang masalah yang mereka tidak mampu, secara fizikal atau mental, untuk menanggungnya.

Ini bermakna, walau apa pun situasinya, Allah (s.w.t) memilih untuk menguji kita dengan cabaran itu kerana Dia tahu bahawa kita boleh mengharunginya : bahawa diri kita  cukup kuat. Maka yakinlah pada itu, yakinlah pada kekuatan yang Allah (s.w.t) berikan kepadamu. Kerana selepas ribut, muncul pelangi.


🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

  Kalimat Zikir Yang Ringan Di Mulut tetapi BERAT DI TIMBANGAN

🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲


“Sesiapa yang bertawakkal kepada Allah; Dia akan cukup bagi-Nya.” (65:3)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Amanah adalah entiti yang besar dalam sebuah kehidupan. Kepercayaan memerlukan banyak pemikiran, kelemahan dan kekuatan untuk tidak berputus asa. Bukan mudah untuk mempercayai apa yang kita tidak tahu, atau apa yang kita tidak ada kawalan ke atasnya. Itulah yang sangat indah tentang Islam: ia adalah peluang untuk mempercayai Allah (s.w.t).

Dan percayalah bahawa rancangan-Nya  adalah rancangan terbaik yang mungkin untuk kita. Ya, ia memerlukan banyak kekuatan dan ia menakutkan untuk menjalani kehidupan tanpa mengetahui apa yang boleh atau tidak boleh berlaku mengikut apa yang telah direncanakanNya untuk kita : tetapi itulah kehidupan.

Kehidupan bergelora dengan ombak dan apa yang boleh kita lakukan ialah meredah ombak dan berdoa untuk yang terbaik. Ini tidak bermakna tidak berusaha dalam hidup, sebaliknya ia bermakna: lakukan semua yang  boleh dan yang terbaik yang boleh dan mampu dilakukan dengan apa yang kita  boleh kawal. Selebihnya, serahkan kepada Allah (s.w.t), Dia akan lakukan yang terbaik untuk kita.

 

🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

KELEBIHAN BERZIKIR

🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲

“Jangan putus harapan, jangan bersedih. Sesungguhnya kamu akan menang jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (3:139)

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

 

Di saat kita tersadung dan bersedih. Itu semua selain daripada apa yang menjadikan diri kita manusia. Apabila kita berada dalam kedudukan seperti itu, kita perlu melaksanakan ajaran al-Quran serta ayat-ayat  seperti yang disarankan para ulama. Ingatlah, Allah (s.w.t) sentiasa bersama kita. Dia sentiasa membimbing dan mengawasi kita, tidak kira berapa banyak dosa kita dan kesilapan kita . Ingatlah, semakin tinggi iman, semakin kuat ujiannya... 

Allah telah berfirman:

“Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” 
(QS Al-Ankabut:2-3

Mengetahui bahawa Dia ada  senantiasa seharusnya memberi kita sedikit keselesaan. Bahawa apa yang berlaku kepada kita adalah apa yang sepatutnya berlaku dan tidak kira sejauh mana kita tersasar  Dia akan sentiasa bersama kita dan mahukan yang terbaik untuk kita. Oleh itu, kita harus menghargai anugerah-Nya dan menjadi orang yang benar-benar beriman 

 

“Tiada musibah yang menimpa melainkan dengan izin Allah. Dan sesiapa yang beriman kepada Allah, nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (64:11)

مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِ ؕ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۡۡۡۢ بِاللّٰۡهِ بِاللّٰۡۡ يَلَهٰۡ ٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ

Dalam Islam, salah satu rukun Iman ialah: kepercayaan kepada takdir atau takdir (al-Qada’ dan al-Qadar’). Ini bermakna bahawa kita, sebagai manusia, tertakluk kepada kehendak bebas oleh Allah (s.w.t) tetapi juga, kita telah ditakdirkan kepada sebuah cerita: nasib kita, cerita kita. Ini adalah takdir yang telah ditentukan yang diciptakan oleh Allah (s.w.t) untuk kita. Adalah penting untuk kita memahami bahawa kita tidak menguasai segala-galanya, kuasa itu terletak pada Allah (s.w.t). Benda yang kita tak mampu nak kawal, kena terima. Adalah tidak wajar untuk kita mempersoalkan mengapa perkara buruk berlaku kepada kita, kerana segala yang berlaku : adalah dengan izin Allah (s.w.t). Setiap apa yang Dia lakukan mempunyai tujuan: sebagai pengajaran untuk menjadikan kita lebih kuat atau mendekatkan Dia kepada kita. Percayalah kepada-Nya dan yakinlah takdirmu adalah untuk kebaikanmu.

Apapun yang sedang terjadi , sama-sama kita hadapi dengan rasa insaf dan sentiasa bersangka baik dengan Allah SWT. Percayalah setiap apa yang berlaku pasti ada hikmahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (2:153)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Solat adalah salah satu cara terbaik untuk kita berasa tenang, dalaman dan luaran. Ia bukan sesuatu yang berlaku secara sporadis, ia berlaku pada bila-bila masa anda berdoa, dengan niat yang baik dan benar.

Tenangkan hati dan fikiran dari tekanan dan apa jua  kesusahan hidup ini. Ingatkan diri tentang kebesaran dan keindahan Syurga (Jannah) dan apa yang perlu kita persoalkan di Akhirat kelak.,,, tiada yang lebih penting selain dari keimanan padaNya


KEUTAMAAN SHOLAT TASBIH

  بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Bacaan ta...