Friday, August 12, 2022

Perbanyak istighfar dan menjemput rahmat Allah

 بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Perbanyak istighfar

Allah memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa beristighfar tak mengenal waktu dan tempat. Selagi ia sempat dan ingat kepada Allah maka dianjurkan untuk bisa beristighfar kepada-Nya.

Istighfar dapat dilafalkan sebelum dan sesudah shalat atau juga di akhir malam. Hal inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir malam mereka beristighfar (memohon ampun) kepada Allah.” (QS Adz Dzaariyat [51]: 17-18)

Lantas, berapakah selayaknya seseorang melafalkan istighfar dalam sehari? Rasulullah mencontohkan kepada umatnya untuk bisa beristighfar sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari. Beliau berucap, “Sesungguhnya, aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR Bukhari)

Tak hanya itu, bahkan beliau melafalkan istighfar dengan lengkap sebagai wujud kesyukurannya kepada Allah SWT, meskipun secara pribadi beliau adalah orang yang ma’sum (terbebas dari salah dan dosa). Dalam salah satu hadisnya Rasulullah menyebutkan, “Ya Allah, ampunilah bagiku dosa-dosaku yang telah lalu dan akan datang, yang tersembunyi dan tampak, dan apa yang Engkau lebih ketahui dariku. Engkau-lah Zat yang Mahapendahulu dan Zat yang Mahapengakhir. Dan, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari)

Rabiatu; Adawiyah, wanita sufi dalam sejarah Islam mempertegas dalam ucapannya, “ kita  membutuhkan istighfar yang banyak.” Dengan memperbanyak istighfar, selain sebagai sarana mengingat kepada Allah sang Maha pencipta juga untuk memohon ampun kepada-Nya; dapat mengingatkan hakikat diri sebagai makhluk-Nya yang lemah, tiada terlepas dari salah dan dosa; memberikan jalan keluar dari segala bentuk kesusahan dan kesempitan; dan mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: )وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً)

Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdul Rahman dengan berkata, telah berkata Abu Hurairah RA : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (memohon keampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih daripada tujuh puluh kali." (HR Bukhari No: 6307) Status: Hadis Sahih.

“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Allah sengaja mendatangkan pelbagai masalah untuk melihat sejauh mana kita menyelesaikannya. Adakah kita menjadi seorang merintih masalah atau berusaha mencari jalan penyelesaian?

Para ulama yang dekat dengan cara fikir al-Quran dan al-Sunnah cukup memahami hakikat kehidupan ini. Ibnu Kathir berpesan, “Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini iaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan:

- Memudahkan rezekinya
- Memudahkan urusannya
- Menjaga kekuatan jiwanya

Ibnu Qayyim pula berkata: “Apabila engkau berdoa, sementara waktu yang dimiliki begitu sempit, padahal dadamu dipenuhi dengan begitu banyak keinginan, maka jadikanlah seluruh isi doamu istighfar, agar Allah mengampunkan kamu. Apabila engkau diampuni, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.”

Lazimnya lafaz istighfar itu diungkapkan sebagai zikir untuk memohon keampunan kepada Allah. Ia juga dilafazkan selepas kita tersedar daripada melakukan dosa.

Harapan kita tentu sekali supaya dosa kita dihapuskan. Namun, manfaat istighfar lebih jauh daripada itu.

Rasul shallallahu’alaihiwasallam juga menjelaskan bahwa manfaat dari memperbanyak Istigfar. Tak hanya mampu memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, istighfar merupakan salah satu kunci rezeki.



10 Cara Rasulullah SAW Menjemput Rahmat Allah SWT

Suatu hari Baginda Nabi Muhammad SAW didatangi Jibril, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar sebesar satu jari, di situ juga Allah SWT menumbuhkan satu pohon delima, setiap malam delima itu berbuah satu delima.

Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi dan berwudhu pada mata air tersebut. Lalu ia memetik buah delima untuk dimakannya, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dan dalam shalatnya ia berkata: “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan bersujud dan supaya badanku tidak tersentuh oleh bumi dan lainnya, sampai aku dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud”.

Maka Allah SWT menerima doa hambanya tersebut. Aku (Jibril) mendapatkan petunjuk dari Allah SWT bahwa hamba Allah itu akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud. Maka Allah SWT menyuruh: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.

Maka Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Untuk yang ketiga kalinya Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut pun berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.

Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu. (HR Sulaiman Bin Harom, dari Muhammad Bin Al-Mankadir, dari Jabir RA).


Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah SWT, bukan karena banyaknya amal ibadah. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal ibadah yang kita lakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, puasa, dan amalan-amalan lainnya tidak ada arti? Jangan salah persepsi. Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia, amal ibadah adalah sebuah proses atau alat untuk menjemput rahmat Allah SWT. Karena rahmat Allah tidak diobral begitu saja kepada manusia. Akan tetapi, harus diundang dan dijemput.

Rasulullah SAW mengajarkan kepala umatnya beberapa cara agar rahmat Allah itu bisa diraih. 

01.berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya dan merasa diperhatikan (diawasi) oleh Allah (QS al-A'raf [7]: 56).

02.bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (QS al-A'raf [7]: 156-157). 

03. kasih sayang kepada makhluk-Nya, baik manusia, binatang. maupun tumbuhan

04.beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah (QS al-Baqarah [2]: 218)

05. mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah SAW (QS an-Nur [24]: 56). 

06. berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-nama-Nya yang Mahapengasih (ar-Rahman) lagi Mahapenyayang (ar-Rahim). Firman Allah SWT, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS al-Kahfi [18]: 10).

07
. membaca, menghafal, dan mengamalkan Alquran (QS al-An'am [6]: 155). 

08, mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Ali Imran [6]: 132). 

09. mendengar dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan Alquran (QS al-A'raf [7]: 204). 

10. memperbanyak istigfar, memohon ampunan dari Allah SWT. Firmannya, “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS an-Naml [27]: 46).

Tuesday, June 14, 2022

Jangan Ikut Hingga ke Lubang Biawak

 بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Cabaran akhir zaman... masuk ke lubang biawak


وعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم “لَتَتّبِعُنّ سَنَنَ الّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ. شِبْراً بِشِبْرٍ، وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ. حَتّىَ لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبَ لاَتّبَعْتُمُوهُمْ” قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللّهِ آلْيَهُودُ وَالنّصَارَىَ؟ قَالَ “فَمَنْ؟”.[ رواه البخارى ومسلم
 [Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum yahudi dan nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam al-Nawawi ketika mensyarahkan hadith tersebut, menjelaskan bahawa yang dimaksudkan dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (sehasta) serta lubang dhob adalah permisalan terhadap tingkah laku kaum muslimin yang begitu serupa dengan tingkah Yahudi dan Nasrani dari segi mengikuti mereka dalam hal kemaksiatan begitu juga perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam.
 [Lihat: Syarh Muslim ‘ala al-Nawawi; 2/219].


hadith Nabi Muhammad S.A.W:

‏ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Maksudnya: Sesiapa yang bertasyabbuh dengan sesuatu kaum maka dia sebahagian dari mereka.
Riwayat Abu Daud (4031)

Dalam lafaz yang lain Nabi S.A.W bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Maksudnya: Bukan dari kalangan kami mereka yang menyerupai selain kami.
[Lihat: Majmu’ al-Fatawa; 22/154]

“Sungguh, kalian akan benar-benar akan mengikuti kebiasaan dan cara hidup orang-orang sebelum kalian”, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para sahabatnya. “Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta”, lanjut sang Nabi. Maksudnya, peniruan terhadap kebiasaan, budaya, dan gaya hidup ummat terdahulu tersebut terjadi secara halus dan bertahap. Meskipun halus dan bertahap tapi pasti tanpa disadari. Bahkan sampai pada level latah tanpa sikap kritis sama sekali. Seolah semua budaya dan gaya hidup yang berasal dari luar harus diikuti.

Dalam lanjutan hadits tersebut Rasulullah menggambarkan sikap latah terhadap budaya luar dengan ungkapan, “Sampai-sampai andaikan mereka masuk ke lubang biawak sekalipun, kalian tetap mengikuti mereka”. 

Demi masa...

Apa yang disabdakan Nabi seribu empat ratusan tahun lalu telah nampak di zaman ini. Fenomena meniru dan mengikuti gaya hidup dan budaya menyimpang ummat-ummat terhadulu mewabah di tengah-tengah masyarakat Muslim. Gejala “masuk lubang biawak” telah merasuk ke hampir seluruh aspek kehidupan serta menjangkiti hampir seluruh level masyarakat. Bahkan dalam segenap segi kehidupan mereka sama ada dari segi politik, ekonomi, sosial atau akhlak umat Islam seperti bersetuju, berlapang dada atau suka dengan apa-apa yang disuarakan oleh Yahudi dan Nasrani dalam kehidupan mereka sekali pun dalam menangani masalah umat Islam sendiri. Nauzubillah.


firman Allah S.W.T:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Maksudnya: Dan saling membantulah ke atas perkara kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling membantu atas perkara dosa dan permusuhan.
Surah al-Maidah (5 : 2)





Bacaan tambahan :

Sunday, June 5, 2022

Ingat Allah dan Allah Mengingat Kita

 بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

surah Al-Baqarah, 2:152 . Ingatlah pada Allah

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. 
Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.
( SURAH AL-BAQARAH AYAT 152 )


Tafsir Ringkas Kemenag RI
Atas semua kenikmatan itu, Allah menyuruh kaum muslim untuk selalu mengingat-Nya. Maka ingatlah kepada-Ku, baik melalui lisan dengan melafalkan pujian, melalui hati dengan mengingat kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maupun melalui fisik dengan mentaati Allah. Jika kamu mengingatku, Aku pun pasti akan ingat kepadamu dengan melimpahkan pahala, pertolongan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bersyukurlah pula kepada-Ku atas nikmat-Ku dengan menggunakannya di jalan-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku, kepada nikmat-nikmatku, dan mempergunakannya untuk berbuat maksiat.

Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah 152, Allah berfirman,”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” Jelas, tidaklah seorang hamba mengingat Allah, melainkan Allah pun mengingatnya.

Sebagian ulama mengartikan ayat tersebut sebagai berikut: “Ingatlah kalian kepada-Ku di muka bumi, niscaya Aku akan mengingat kalian di dalam perut bumi (kubur).”

Dasar pendapat mereka adalah riwayat bahwa ketika jenazah dimasukkan ke dalam liang lahad lalu dikubur, manakala keluarga dan para pengantar telah pergi dan meninggalkannya sendirian terasing dalam kubur, Allah SWT berkata,”Wahai malaikat-Ku, lihatlah orang yang baru datang itu! Ia telah jauh dari keluarga dan kerabatnya. Selama di dunia ia selalu mengingat-Ku.”

Allah SWT kemudian berkata kepada orang itu,”Hamba-Ku, mereka telah meninggalkanmu. Hamba-Ku, mereka telah menjauhimu. Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku sungguh akan melimpahkan rahmat-Ku kepadamu.”

Perbanyakkan ingat Allah



Perbanyakkan zikir (Al-Ahzab 41-42 )

Rahmat, cahaya dan iman (Al-Ahzab 43 )

Sebagian lain memaknai ayat itu berikut rupa: 
“Ingatlah kalian kepada-Ku ketika melakukan kemaksiatan lalu dengan segera tinggalkan kemaksiatan itu, niscaya Aku akan mengingat kalian pada Hari Kiamat ketika kalian melihat api Neraka.”

Pemahaman lain berdasarkan sebuah riwayat, bahwa Allah SWT berfirman dalam salah satu kitab-Nya,
” Hamba-Ku, malulah kamu kepada-Ku ketika melakukan kemaksiatan, niscaya Aku akan merasa malu kepadamu pada Hari Kiamat, sehingga Aku tidak mengazabmu dengan Neraka-Ku.

Ada yang memahami pengertian ayat itu sebagai berikut: 
“Ingatlah kalian kepada-Ku seraya meyakini bahwa kalian adalah milik-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian dan Aku adalah milik kalian.”

Dasar pemahaman ini adalah riwayat bahwa Allah SWT berfirman dalam sebuah kitab yang diberikan kepada salah seorang nabi-Nya,” Hamba-Ku, Aku ini milikmu, lalu kamu milik siapa? Aku bersamamu, lalu kamu bersama siapa?”

Yang lain lagi mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah:”Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melupakan selain-Ku, niscaya Aku mengingat kalian dan Aku singkapkan (bagi kalian) tabir Wajah-Ku, sehingga dengan cahaya dari-Ku kalian dapat memandang Cahaya-Ku.”

Ada juga yang berpendapat bahwa ayat tersebut berarti : “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan hati, lidah,dan anggota badan, niscaya Aku mengingat kalian dengan (memberi kalian nikmat berupa) surge, memandang Wajah-Ku dan keridlaan.”

Balasan mengingat Allah dengan lidah adalah memandang Wajah-Nya.

Abu Yazid Al-Busthami berkata,” Aneh sekali orang yang mengatakan,”Aku pernah mengingat Tuhanku.” Aku saja pernah berusaha untuk melupakan-Nya, tetapi tidak bisa.”

Al-Busthami bersenandung:

“Allah tahu bahwa aku tidak mengingat-Nya

Bagaimana aku dapat mengingat-Nya,

Sedangkan aku tidak pernah melupakan-Nya.”

Dikisahkan bahwa sekelompok orang miskin datang kepada Asy-Syibli—salah seorang wali sufi termasyhur– dan bertanya kepadanya,”Bagaimana pendapatmu tentang dzikir (mengingat Allah)?”

Asy-Syibli menjawab pertanyaan itu dengan sebait syair:

“Aku heran dengan orang yang berkata,” Aku mengingat Tuhan”

Bagaimanatah bisa aku melupakan, lalu mengingat selain Tuhan?”

Asy-Syibli lalu berkata :

“Dzikir adalah pekerjaan orang yang sering lupa, zuhud adalah pekerjaan orang yang tidak mempunyai pekerjaan, muhasabah (introspeksi diri) adalah pekerjaan orang yang rajin ibadah, dan musyahadah (menyaksikan rahasia-rahasia Ilahi) adalah pekerjaan para mutahaqgiq (orang yang telah mencapai tangkat keyakinan tertinggi).”

Ketika hati merasakan kerinduan kepada seseorang yang sedang diingat, lidah akan bergerak mengucapkan nama orang yang diingat itu. Sungguh indah perkataan orang yang bersenandung :

Aku mengingatmu bukan berarti aku pernah lupa barang sekejap,

Tapi kerinduan ini menggerakkan lidah dan namamu pun terucap.”


Yahya bin Mu’adz RA berkata,” Sesungguhnya Allah SWT terikat dan tergantung di ‘Arasy pada hati orang mukmin. Setiap hati mempunyai tali yang mengikat-Nya. Seseorang tidak akan mengikat-Nya sebelum Ia menggerakkan tali yang mengikat-Nya itu.”

Yahya menambahkan,”Gerakan tali itu terjadi sebelum seseorang mengingat-Nya.”

Abu Sa’id Al-Nisaburi, ketika menafsirkan ayat :”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”, dalam kitabnya “Al-Isyarah wa al-Ibadah” menunjukkan setidaknya tiga puluh kemungkinan penafsiran untuk ayat tersebut. Saya sendiri—Syekh Abu Thalib Al-Makki, bukan simkuring—kalau saja tidak khawatir akan menimbyulkan rasa bosan, akan terus berpanjang lebar hanya pada ayat ini. [dsy]

Wednesday, June 1, 2022

Tafsir Surat al-Mulk Ayat 19: Hikmah di Balik Penciptaan Burung

  بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

al-Mulk Ayat 19

Tafsir Surat al-Mulk Ayat 19: Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

Terbukti, bahwa banyak ayat al-quran yang memotivasi kita untuk bertafakur. Tepatnya sebuah ayat, yakni surat al-mulk ayat 19, Allah mengajak akal kita berpetualang menafakuri keistimewaan burung. Ketika kita sedang hilang kendali, merasa putus asa dan lainnya, lihatlah ada makhluk kecil Allah yang terus berjuang terutama dalam hal pemenuhan hajat dan keperluan sehari-hari.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. 
(Q.S al-Mulk ayat 19)

Tafsir ringkas:

1. Selepas beberapa amaran dan ancaman dalam ayat-ayat sebelumnya, ayat ini mengajak manusia memerhati dan berfikir tentang kejadian burung yang berterbangan di udara dengan mengembang dan menguncupkan sayapnya sebagai suatu keajaiban ciptaan Allah yang membuktikan kekuasaan-Nya.

2. Ayat ini menjelaskan bahawa burung boleh berterbangan dan terapung di udara bukanlah semata-mata kerana kemampuan dan daya semulajadi burung menggerakkan sayapnya. Sebenarnya, kekuasaan Allah Yang Maha Pemurah jualah yang menahan burung itu daripada jatuh ke bumi. Lantaran pemurahnya Allah, diciptakan burung dalam bentuk aerodynamic bagi membolehkannya terbang. Tanpa rahmat-Nya, nescaya burung tidak akan mampu terapung di udara.
Perkara ini juga dijelaskan dalam Surah Al Nahl, ayat 79:

أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang melayang-layang di angkasa? Tiada yang menahan mereka (dari jatuh) melainkan Allah; sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.
(Surah Al Nahl, ayat 79)

3. Di hujung ayat ini, Allah menegaskan bahawa Dia Maha Melihat akan tiap-tiap sesuatu. Ini bermakna Allah sentiasa memerhati dan mengetahui segala perkara yang berlaku. Oleh sebab itu Allah menyedia, mengatur, memberi tenaga kekuatan dan memelihara segala-galanya di setiap saat dengan penuh teliti dan pengetahuan yang mendalam.


🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦

Pada Tafsir Jalalain karya Imam As-Suyuti menggambarkan kepada kita sebagai hamba Allah, untuk melihat dan memperhatikan burung-burung yang berada di atas mereka yakni di udara (yang mengembangkan sayapnya) melebarkan sayapnya (dan mengatupkannya) menutupkannya sesudah dikembangkan.


Tidak hanya itu, burung juga memiliki pertahanan pada tubuh mereka yakni menahan diri agar tidak jatuh ke bumi sewaktu mengembangkan dan mengatupkan sayapnya. Fenomena tersebut mampu terjadi hanya kerana Allah Maha Penyayang dengan segala kekuasaan-Nya. (Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala sesuatu), akan tetapi banyak hambanya yang tidak menyimpulkan dengan adanya burung-burung di udara merupakan bentuk kekuasaan Allah, jika itu terjadi yakni hambanya tidak percaya atas segala ciptaan Allah, maka Allah dapat menimpakan kepada mereka azab dan lainnya.

Burung dapat Terbang Hingga Hilang dan Tanpa Menggerakkan Sayapnya

Kemudian pada Tafsir al-Misbah Karangan Quraish Shihab, menjelaskan yang tidak jauh berbeza dengan apa yang ditulis oleh Imam As-Suyuti. Selanjutnya lafal Al-shaff pada ayat di atas yang mana diambil dari kata al-shaffat yang bererti burung membentangkan kedua sayapnya dengan tanpa digerakkan.

Tidak hanya itu, ternyata terbangnya burung adalah suatu mukjizat yang baru diketahui setelah adanya perkembangan kajian ilmu cabang pergerakan udara iaitu ilmu aeronautika dan teori aerodinamik. Akan tetapi yang mengundang kekaguman pada keunikan dari seekor burung adalah dapat terbang di udara sampai hilang dari pandangan, dan itu tanpa menggerakkan kedua sayapnya. Ilmu pengetahuan membuktikan bahawa burung-burung yang terbang tanpa menggerakkan kedua sayapnya itu sebenarnya terbang di atas aliran-aliran udara yang muncul, baik kerana benturan udara dengan segala sesuatu yang menghalanginya atau karena tingginya tekanan udara panas.

Kenapa semua itu bisa terjadi pada burung?

Sesungguhnya Allah SWT memberikan spesifikasi pada burung dengan berikut, burung memiliki berat badan yang ringan, jantungnya juga memiliki kemampuan yang tinggi berbeda dengan manusia, kemudian peredaran darah pada alat pernafasan burung juga terbilang seimbang dengan tubuh. Sehingga organ tubuh yang dimiliki oleh burung dapat menjaga keseimbangan dan mengatur arah tubuhnya ketika terbang.

Selain itu, dalam catatan Tafsir al-Quranil Adzim karya Ibnu Katsir menegaskan bahawa tidakkah mereka (manusia) memperhatikan burung-burung yang dipermudahkan terbang di angkasa bebas, tanpa ada yang menahannya selain dari Allah. Hal ini merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT.

Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

Penjelasan ini mungkin dianggap remeh, namun jika kita renungkan, maka kita akan menginsafi peranan burung memang sungguh luar biasa. Jika kita melihat bentuk fisik burung, dia terlihat kecil, jauh sekali jika dibandingkan dengan tubuh manusia. Namun, menjadikannya makhluk luar biasa hingga ianya disebut didalam al-Quran. Burung mengajarkan kepada kita untuk memiliki obsesi melebihi bentuk fisik kita, misalnya, fisik boleh kecil, tetapi cita-cita dan idealisme harus lebih besar.

Dari sini menegaskan bahawa hal ini bukanlah mimpi dan khayalan. Kerana yang membezaakan antara kenyataan dan khayalan adalah kemahuan dan kesungguhan untuk merealisasikan harapan dan cita-cita.

Kita bisa meneladani kisah burung hudhud pada zaman nabi Sulaiman, burung tersebut mampu memberikan informasi yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman, bahawa ada kerajaan yang penduduknya menyembah selain Allah SWT dan dipimpin oleh seorang wanita.
Terdapat banyak ayat quran yang membicarakan tentang burung ;

Miliki hati seperti burung

Selain itu juga burung juga mengajarkan optimisme, tidak boleh berputus asa dalam berbuat sesuatu, terutama dalam hal pemenuhan hajat dan keperluan sehari-hari, bagaimana tidak? ketika hendak pergi, burung masih dalam keadaan lapar, namun ketika pulang pada petang hari, dia sudah merasa kenyang. Bagaimana burung yang sedemikian kecil dari segi fisik itu, begitu besar dalam semangat mencari dan mengais karunia Allah SWT dengan penuh tawakkal. Sesungguhnya burung hanya mempunyai gerakhati, namun mampu mencukupi keperluannya, apalagi manusia yang dilengkapi dengan akal fikiran...
 
      🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦

Pengajaran:

1. Gunakanlah pancaindera dan akal yang dikurniakan Allah untuk memerhati, merenungi dan berfikir tentang kejadian burung yang berterbangan di angkasa sehingga lahir perasaan takjub terhadap kehebatan dan kekuasaan Allah SWT lalu meningkatkan keimanan kepada-Nya.

2. Pelajari, terokai dan perkembangan ilmu berkaitan kejadian burung yang Allah terangkan dalam Al Quran yang menghasilkan teknologi yang memberi manfaat kepada kehidupan manusia. Contohnya, teori dan kajian saintifik berkaitan teknologi penerbangan berpandukan Al Quran telah berjaya membuka jalan kepada penciptaan kapal terbang sebagaimana yang telah dirintis oleh Ibn Firnas, sarjana Muslim pertama yang mencipta alat untuk terbang dan melakukan ujian penerbangan.

3. Sebagai seorang Muslim, perbetulkanlah pandangan kita terhadap segala kemajuan sains teknologi moden yang ditemui dan direka oleh para saintis agar kita tidak hanya berbangga dengan kehebatan ilmu dan kajian saintifik semata-mata. Sebaliknya segala kejayaan penemuan tersebut hendaklah dihubungkan terus dengan kekuasaan mencipta, ketinggian ilmu serta ketelitian pemerhatian Allah agar dapat menambah penghayatan, keyakinan dan keimanan kita kepada segala nama dan sifat Allah SWT.

credit :

Monday, May 30, 2022

QS. Al-A’raf Ayat 55 - Berdoa dengan Rendah hati dan Suara Lembut

 بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


QS. Al-A’raf Ayat 55


ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Ud'uu Rabbakum tadarru'anw wa khufyah; innahuu laa yuhibbul mu'tadiin

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.


Tafsir
Berdoalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan dan memeliharamu, dengan rendah hati dan suara yang lembut, yakni tidak terlalu keras, namun tidak pula terlalu pelan, tetapi di antara keduanya. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa dan segala hal.

Ayat ini mengandung etika dalam berdoa kepada Allah. Berdoa adalah munajat antara hamba dengan Tuhannya untuk menyampaikan suatu permintaan agar Allah berkenan mengabulkannya. Maka berdoa kepada Allah hendaklah dengan penuh kerendahan hati, dengan betul-betul khusyuk dan berserah diri. Kemudian berdoa itu disampaikan dengan suara lunak dan lembut yang keluar dari hati sanubari yang bersih. Berdoa dengan suara yang keras, menghilangkan kekhusyukan dan mungkin menjurus kepada ria dan pengaruh-pengaruh lainnya dan dapat mengakibatkan doa itu tidak dikabulkan Allah. Doa tidak harus dengan suara yang keras, sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy'ari, ia berkata, "Ketika kami bersama-sama Rasulullah saw dalam perjalanan, terdengarlah orang-orang membaca takbir dengan suara yang keras. Maka Rasulullah bersabda:

"Sayangilah dirimu jangan bersuara keras, karena kamu tidak menyeru kepada yang pekak dan yang jauh. Sesungguhnya kamu menyeru Allah Yang Maha Mendengar lagi Dekat dan Dia selalu beserta kamu". (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy'ari)

Bersuara keras dalam berdoa, bisa mengganggu orang, lebih-lebih orang yang sedang beribadah, baik dalam masjid atau di tempat-tempat ibadah yang lain, kecuali yang dibolehkan dengan suara keras, seperti talbiyah dalam musim haji dan membaca takbir pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Allah memuji Nabi Zakaria a.s. yang berdoa dengan suara lembut:

(Yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam/19: 3)

Kemudian ayat ini ditutup dengan peringatan, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampau batas." Maksudnya, dilarang melampaui batas dalam segala hal, termasuk berdoa. Tiap-tiap sesuatu sudah ditentukan batasnya yang harus diperhatikan, jangan sampai dilampaui.

Mengharap Redha Allah

Bersuara keras dan berlebih-lebihan dalam berdoa termasuk melampaui batas, Allah tidak menyukainya. Termasuk juga melampaui batas dalam berdoa, meminta sesuatu yang mustahil adanya menurut syara' ataupun akal, seperti seseorang meminta agar dia menjadi kaya, tetapi tidak mau berusaha atau seseorang menginginkan agar dosanya diampuni, tetapi dia masih terus bergelimang berbuat dosa dan lain-lainnya. Berdoa seperti itu, namanya ingin mengubah sunatullah yang mustahil terjadinya. Firman Allah:

Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi ketentuan Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu. (Fathir/35: 43)

Berdoa dihadapkan kepada selain Allah atau dengan memakai perantara (washilah) orang yang sudah mati adalah melampaui batas yang sangat tercela. Berdoa itu hanya dihadapkan kepada Allah, tidak boleh menyimpang kepada yang lain. Allah berfirman:

Katakanlah (Muhammad), "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, mereka tidak kuasa untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak (pula) mampu mengubahnya." Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti." (al-Isra'/17: 56-57)

Hadis Nabi saw:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, "Telah bersabda Rasulullah saw, "Mintalah kepada Allah washilah untukku. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, apakah washilah itu? Rasulullah menjawab: "Dekat dengan Allah azza Wa Jalla, kemudian Rasulullah membaca ayat; (mereka sendiri) mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah." (Riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Mardawaih)
sumber: kemenag.go.id
Hanyalah untuk Allah

Keterangan mengenai QS. Al-A’raf
Surat Al A'raaf yang berjumlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Dinamakan Al A'raaf karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A'raaf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Thursday, May 26, 2022

Surah Al Ghafir Ayat 44 – tenang dan redha


بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Surah Al Ghafir Ayat 44

KELEBIHAN / MANFAAT SURAH GHAFIR AYAT 44

Ayat ini boleh diamalkan tatkala kita sedang bersedih ditimpa ujian. Ia boleh diamalkan (dibaca) pada ketika sujud terakhir di dalam solat kita.
Inssyaallah, moga dengan ikhtiar amalan bacaan ayat al-Ghafir ini, kita akan tetap mampu tersenyum dan tabah dalam menghadapi apa jua keadaan.
Memujuk hati untuk sentiasa ikhlaskan diri dalam apa jua keadaan – tenang dan redha.

Ketenangan itu wujud apabila keyakinan dan kebergantungan kepada Allah sangat tinggi setelah berusaha melakukan atau mencari penyelesaian tersebut. Jom lihat Surah Al-Ghafir ayat 44

وَاُفَوِّضُ اَمۡرِىۡۤ اِلَى اللّٰهِؕ اِنَّ اللّٰهَ بَصِيۡرٌۢ بِالۡعِبَادِ

 Maksudnya: 
...dan aku sentiasa menyerahkan urusanku bulat-bulat kepada Allah (untuk memeliharaku); sesungguhnya Allah Maha Melihat akan keadaan hamba-hambaNya”.

 Ayat yang sangat hebat untuk dibaca dan diamalkan..Jom cuba hafal ayat ini dan amalkan ! Apabila dibaca berulangkali, akan ada kekuatan yang membantu kita terus kuat.. Siapa yang pandai baca Quran, boleh terus hafal dan amalkan..

Kelebihan manfaat surah ghafir ayat 44. doa ini boleh diamalkan tatkala kita sedang bersedih ditimpa ujian. ia boleh diamalkan (dibaca) pada ketika sujud terakhir di dalam solat . Inssyaallah, moga dengan ikhtiar amalan bacaan ayat al ghafir ini, kita akan tetap mampu tersenyum dan tabah dalam menghadapi apa jua keadaan.

Rasulullah saw mengatakan bahwa kemauan atau niat menjadi penentu pahala sebuah perbuatan. Jika niatnya kerana Allah, maka Allah juga bakal menganugerahkan pahala yang setimpal. Surah ghafir ayat 44 sesuai diamalkan untuk memujuk hati agar tenang dan hilangkan kesedihan dalam jiwa kita. setiap orang sudah pasti tidak boleh lari dari ujian dan masalah dalam kehidupan. ujian mungkin diberikan dalam keluarga, di tempat kerja, bersama suami atau isteri, bersama anak anak atau mungkin masalah kewangan dan sebagainya.
Ingat Allah, Hati Tenteram

Tafsir
Maka dengan demikian kelak kamu akan ingat dan mengakui kebenaran yang aku sampaikan kepada kamu dan bahkan apa yang kukatakan kepadamu selama ini sesuatu yang layak untuk diyakini. Dan oleh sebab itu, aku menyerahkan seluruh urusanku hanya kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan apa yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya dan akan memberi balasan yang setimpal dengan apa yang diperbuat.”

Kemudian orang-orang yang beriman itu mengakhiri nasihatnya kepada kaumnya dengan mengatakan, "Wahai kaumku, di akhirat kelak kamu sekalian akan mengetahui kebenaran yang aku sampaikan kepadamu baik berupa perintah-perintah Allah maupun berupa larangan-larangan-Nya. Waktu itu kamu akan menyesal, tetapi pada waktu itu penyesalan tiada berguna lagi. Aku bertawakal kepada Tuhanku dan aku menyerahkan kepada-Nya segala urusanku dan aku mohon pertolongan kepada-Nya, agar aku terpelihara dari segala macam kejahatan yang mungkin aku lakukan dan dari segala bencana yang mungkin menimpaku."


Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Dia memberi petunjuk hamba-hamba-Nya yang pantas diberi petunjuk dan menyesatkan hamba-hamba-Nya yang menginginkan kesesatan itu dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang dan tidak mengerjakan perintah-perintah yang harus mereka laksanakan.

Keterangan mengenai QS. Ghafir
Surat Al Mu'min terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zumar. Dinamai Al Mu'min (Orang yang beriman), berhubung dengan perkataan mukmin yang terdapat pada ayat 28 surat ini. Pada ayat 28 diterangkan bahwa salah seorang dari kaum Fir'aun telah beriman kepada Nabi Musa a.s. dengan menyembunyikan imannya kepada kaumnya, setelah mendengar keterangan dan melihat mukjizat yang dikemukakan oleh Nabi Musa a.s. Hati kecil orang ini mencela Fir'aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa a.s., sekalipun telah dikemukakan keterangan dan mukjizat yang diminta mereka.Dinamakan pula Ghafir (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat Ghafir yang terdapat pada ayat 3 surat ini. Ayat ini mengingatkan bahwa Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat adalah sebagian dari sifat-sifat Allah, karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka lakukan, semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi. Dan surat ini dinamai Dzit Thaul (Yang Mempunyai Kurnia) karena perkataan tersebut terdapat pada ayat 3.



Thursday, April 21, 2022

Surah Al-Kahfi ayat 101-110. ( PERINGATAN BUAT HATI MUKMIN ) serta tafsir

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد


Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Benar dan Nyata
( Zikir Pengukuhan syahadah}
Love collection 💖- kejadian alam buana

Terdapat 41 ayat Quran (dalam surah berlainan) yang memberi penegasan /mengingatkan kita  tentang 
segala yang di langit dan di bumi adalah dalam kekuasaan Allah :
  1-10,  11-2021-30,  31-40,  41

Baca:

video : 27 Ramadhan 1443H / 28 April 2022  (Malam Jumaat)

Alam Buana sepintas lalu...
Begitulah manusia dan alam buana/semesta. Keseimbangan dan kesesuaian pada kedua-duanya membolehkan manusia hidup. Subhanallah….. Udara yang disedut bersesuaian dengan fisiologi sistem pernafasan; air yang diminum mengimbangkan homeostasis badan, makanan dari tumbuh-tumbuhan dan haiwan ternakan memberikan tenaga dan zat yang diperlukan. Apakah pula tanda kesyukuran kita atas nikmat ini?

Allah juga telah mengurniakan akal dan memberikan kefahaman kepada manusia ini, sesuai dengan tugasnya menjadi khalifah. Mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan yang ada untuk meneroka alam bumi dan langit untuk pelbagai kegunaan.

Firman Allah Surah Al-Haj 22:65
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِى فِى ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦ وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۤ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٦٥)
“Tidakkah engkau melihat bahawa Allah telah menundukkan kepada kamu segala apa yang ada di bumi dan kapal-kapal yang belayar di dalam lautan dengan perintah-Nya, dan Dialah yang menahan langit dari jatuh ke atas bumi melainkan dengan izin-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Maha Pengasih terhadap manusia”

Surah Al-Kahfi ayat 101-105

Surah Al-Kahfi ayat 106-110

Artikel Berkaitan ; 


Tafsir Surah Al Kahfi Ayat 101-110 :

Ayat 101
. الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا
yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.


Ayat ini menjelaskan bahwa azab yang pedih itu disediakan untuk orang-orang yang mata hatinya selalu tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di dunia ini. Mereka tidak pernah memikirkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, tidak pernah bertobat kepada Tuhannya, tidak pernah mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, seolah-olah mereka menutup telinga tidak mau mendengar peringatan peringatan dari Allah itu.

Azab yang demikian itu ditimpakan kepada mereka sebagai akibat perbuatan mereka berkecimpung (bergelimangan) dalam dosa dan pelanggaran, mengikuti godaan setan masuk dalam perangkap-perangkap yang dipasang oleh setan, sehingga hati mereka dikunci mati oleh Tuhan sehingga tidak dapat lagi mempergunakan mata dan telinganya untuk menerima petunjuk dan kebenaran. Dan Allah menjelaskan bahwa apa-apa yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi manfaat kepada mereka sedikit pun.

Ayat 102
. أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ ۚإِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.

Apakah orang-orang kafir yang mempersekutukan Aku dengan yang lain menyangka bahwa hamba-hamba-Ku yang ada dalam genggaman kekuasaan-Ku, seperti para malaikat, Isa putra Maryam dan berhala-berhala yang mereka sembah, dapat mereka jadikan penolong untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan dan azab-Ku?

Sangkaan mereka itu adalah sesat dan salah belaka dan Allah dengan tegas menyatakan lagi, “Kami telah menyediakan neraka Jahannam bagi orang-orang kafir sebagai tempat tinggal dan sebagai ganti dari apa-apa yang mereka sajikan untuk sembahan-sembahannya.

Ayat 103
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالً
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"

Ayat ini menjelaskan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada orang-orang yang membantahnya di antara Ahli-ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani, “Maukah kamu diberi tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya yaitu orang-orang yang telah bersusah payah mengerjakan suatu perbuatan yang dengan perbuatan itu ia mengharap pahala dan karunia, tetapi yang mereka peroleh hanyalah malapetaka dan kebinasaan, seperti orang-orang yang telah membeli barang dengan mengharapkan keuntungan, tetapi yang diperolehnya hanyalah kerugian belaka.

Ayat 104
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam menghimpun kebaikan di dunia, mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perbuatan yang diridai Allah dan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Kemudian ternyata mereka telah berbuat keliru dan menempuh jalan yang sesat sehingga amal perbuatan yang telah mereka kerjakan itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagaikan debu yang terbang habis dihembus angin.

Ayat 105
. أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

Mereka yang sia-sia usahanya itu ialah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan dan kufur pula terhadap hari kebangkitan padahal di hari itu mereka akan dihadapkan kepada hari perjumpaan dengan Allah. Oleh karena itu segala amal mereka akan hapus sehingga tidak ada lagi amal kebajikan yang akan ditimbang di atas neraca timbangan mereka. Karena yang akan memberatkan timbangan pada hari Kiamat hanyalah amal saleh yang bersih dari kemusyrikan.

Ayat 106
ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا
Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

Balasan yang demikian itu diakibatkan kekafiran mereka kepada utusan-utusan Allah dan mukjizat-mukjizat yang dibawanya yang selalu mereka jadikan sebagai olok-olok. Mereka bukan hanya tidak percaya saja tetapi juga memperolok-olok dan menghinakan utusan-utusan Allah yang berarti pula menghinakan Allah yang mengutusnya.

Ayat 107
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

Sesungguhnya orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan membenarkan risalah para rasul dan berbuat amal saleh semata-mata untuk mencapai keredhaan-Nya, bagi mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Diriwayatkan oleh al-Bukhāri dan Muslim dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw:
اِذَا سَأَلْتُمُ الله َفَاسْأَلُوْهُ الْفِرْدَوْسَ فَاِنَّهَا اَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَاَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهَا عَرْشُ الرَّحْمٰنِ تَبَارَكَ وَتَعَالىٰ وَمِنْهُ تُفَجِّرُ اْلاَنْهَارُ. (رواه البخاري ومسلم عن ابى هريرة)

Apabila kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia itu surga yang paling mulia dan yang paling tinggi dan di atasnya terdapat Arsy Ar Rahmàn, dan dari surga Firdaus itu mengalirlah sungai-sungai surga. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ayat 108
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا
mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.

Mereka kekal di dalam surga dan tidak ingin pindah ke tempat lain, karena tidak ada tempat yang lebih mulia dan lebih agung pada sisi mereka kecuali surga Firdaus.

Ayat 109
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

Diriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Nabi Muhammad, “Engkau mengatakan bahwa kami telah diberi oleh Allah hikmah, sedang dalam kitab engkau (Al-Qur’an) terdapat ayat:
وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ

Dan barangsiapa dianugerahkan al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. (al-Baqarah/2: 269)

Kemudian engkau mengatakan pula sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an:
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (al-Isrā’/17: 85)

Mereka berpendapat, ada pertentangan antara kedua ayat ini, maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas kritikan mereka. Rasul diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka, “Katakanlah kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan (dengan pena) kalimat-kalimat Tuhanku dan ilmu-ilmu-Nya, maka akan habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku meskipun air laut itu ditambahkan sebanyak itu pula, karena lautan itu terbatas sedangkan ilmu dan hikmah Allah tidak terbatas.”

Seperti firman Allah:
وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Luqmān/31: 27)

Ayat 110
. قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖفَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 110 ini, Katakanlah kepada mereka, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, mengakui bahwa semua ilmuku tidak sebanding dengan ilmu Allah, aku mengetahui sekedar apa yang diwahyukan Allah kepadaku, dan tidak tahu yang lainnya kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa, “Yang disembah olehku dan oleh kamu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Oleh karena itu barangsiapa yang mengharapkan pahala dari Allah pada hari perjumpaan dengan-Nya, maka hendaklah ia tulus ikhlas dalam ibadahnya, mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya  (lihat maknanya di bawah-tambahan) dan tidak syirik baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi seperti riya, karena berbuat sesuatu dengan motif ingin dipuji orang itu termasuk syirik yang tersembunyi.

Setelah membersihkan iman dari kemusyrikan itu hendaklah selalu mengerjakan amal saleh yang dikerjakannya semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
اِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُوْلُ: اَنَا اَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلاً اَشْرَكَ فِيْهِ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ. (رواه مسلم عن ابي هريرة)

Sesungguhnya Allah berfirman, “Aku adalah yang paling kaya di antara semua yang berserikat dari sekutunya. Dan siapa yang membuat suatu amalan dengan mempersekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

(Tafsir Kemenag)

Tambahan :
Secara definitif, tauhid rububiyah artinya keyakinan bahwa Allah SWT merupakan satu-satunya Zat Pencipta dan Pengatur alam semesta, sebagaimana dikutip dari buku Macam-macam Tauhid (2014) yang ditulis Abu Bakar Muhammad Zakaria. Agama-agama semit, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi mengakui konsep tauhid rububiyah ini. Bagaimanapun juga, tidak ada Zat yang mampu mengatur alam raya, menciptakan makhluk, menghidupkan, mematikan, memberi manfaat, dan memberi marabahaya kecuali Allah SWT, menurut ketiga agama tersebut. Dalam bahasa Arab, rabb (asal kata rububiyah) artinya mengatur, mengurus, dan memiliki. Tauhid rububiyah bermakna bahwa hanya Allah SWT yang mampu mengatur dan mengurus semua makhluk-Nya.

Akan tetapi, tauhid rububiyah saja tidak cukup. Ia harus disertai dengan tauhid uluhiyah. Sebab, mengakui bahwa Allah SWT sebagai Zat Maha Pencipta dan Pengurus alam  semesta juga mesti diikuti dengan rasa tunduk dan patuh pada perintah-Nya.
Berdasarkan hal itu, tauhid uluhiyah merupakan keyakinan bahwa hanya Allah SWT merupakan sesembahan yang benar. Tidak ada Zat yang layak disembah kecuali
 Allah SWT.




Perbanyak istighfar dan menjemput rahmat Allah

  بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Perbanyak...