بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
Kita dianugerahkan pancaindera yang sama. Tetapi cara kita melihat, mendengar, merasai dan mengalami segala sesuatu adalah berbeza. Namun perbezaan itu bukanlah alasan untuk kita bertelingkah, tetapi itulah yang menjadikan diri kita ini kita untuk saling mengenal, saling menghormati, saling memahami dan saling berkasih sayang. Berukhuwah fillah. In Sha Allah...
Tuesday, May 16, 2023
Hizbul Bahr - Imam Abu Hassan ash-Shadhili ق
Thursday, February 9, 2023
Zikir hasbi rabbi jallallah penenang hati
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
حَسْبِی رَبی جَلَا الله * مَافِي قَلْبِی غَيْرُ الله
نُورْ مُحَملدْ صَلی الله * لَا إله إلا الله
-Zikir ini sangat sesuai diamalkan sebagai penenang hati...apalagi dengan penuh penghayatan dan memahami maknanya
-Jika anda dilanda rasa kesedihan, lafazkan lah dan bacalah zikir ini supaya hati anda rasa tenang dan sentiasa ingat pada Allah. Gantikan lah rasa gundah di hati dengan ingatan padaYang Maha Esa,itu adalah lebih baik.
حسبي ربي جل الله
Hasbi Rabbi Jallallah
Cukuplah Rabbku Allah Maha Agung
مافي قلبي غيرُ الله
Mafi Qalbi Ghairullah
Tiada di dalam hati ku kecuali Allah
نورِ محمد صلى الله
Nur Muhammad SallAllah
Cahaya Muhammad ﷺ selamat atas NYA
لا الہ اِلا اللہ
Laillahhaillallah
Tiada Ilah selain Allah..
Saturday, October 8, 2022
4 Golongan Tidak Tersentuh Api Neraka
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد
Hayyin adalah golongan orang-orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Mereka tidak mudah marah, tidak mudah memaki melaknat dan menghina. Mereka memiliki jiwa yang teduh dan menenangkan orang-orang di sekitarnya.
Beginilah seharusnya seorang muslim, ia dapat menahan amarahnya, menghindari perdebatan, bahkan mengalah meskipun ia benar. Seorang muslim yang berat untuk menyakiti orang lain dan senantiasa menjaga lisannya, sebab ia tahu bahwa kebanyakkan dosa dihasilkan dari anggota tubuh bernama, mulut.
2. Layyin
Layyin adalah sebutan bagi orang-orang yang senantiasa menginginkan kebaikan untuk sesama manusia. Mereka memiliki sifat yang lembut dan santun, baik dalam bertutur kata dan bersikap. Tidak kasar, tidak mengikuti hawa nafsu sendiri. Lemah lembut kepada setiap orang.
Terkadang nafsu dan ego kita yang selalu ingin menang sendiri dan hanya memikirkan kepentingan pribadi justru menyebabkan keburukan bagi diri kita.
Dalam hidup, kita harus senantiasa bersosialisasi dengan baik, memikirkan kepentingan bersama serta menghindari perseteruan.
3. Qarib
Golongan manusia yang haram tersentuh api neraka ini adalah orang-orang yang menyenangkan saat diajak berbicara, bersikap ramah tamah kepada siapa saja.
Wajahnya teduh karena senantiasa tersenyum saat bertemu orang. Kehadirannya akan membuat suasana menjadi sangat nyaman dan tenang.
Menjadi orang yang selalu disenangi orang-orang sekitar merupakan impian kita. Senantiasa menyebarkan kebahagiaan kepada semua orang, dan membawa ketenangan yang dapat membantu orang lain untuk merasa lebih baik dalam keseharian.
Kamu mau menjadi orang tersebut? Mari senantiasa bersikap baik dan menebarkan kebaikan, Moslem Fellas.
4. Sahl
Sahl adalah sebutan bagi mereka yang tidak pernah mempersulit ataupun mempermudah segala sesuatu. Mereka selalu ada cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan secara baik-baik dan kepala dingin.
Islam mengenal istilah bermusyawarah dalam mengambil setiap keputusan, jalan yang baik untuk menentukan sebuah pilihan terpilih.
Menjadi seseorang yang mampu berfikir jernih meski dalam waktu genting merupakan sosok yang patut dihormati dan ditiru.
Menjadi manusia yang sederhana dan menjalani hidup sebaik mungkin tanpa memberat urusan dan tidak juga memudahkan/meremehkan hal apapun.
Itulah golongan manusia yang haram tersentuh api neraka, semoga kita masuk ke dalam salah satu golongan tersebut agar dapat merai nikmat surga-Nya.
Keempat golongan manusia yang haram disentuh neraka di atas bisa dijadikan contoh bahawa rahmat Allah sangat besar. Sehingga orang-orang dengan sifat tersebut memungkinkan bisa terhindar dari api neraka.
Jika merasa kesulitan untuk mencontohi keempatnya, setidaknya cubalah untuk mencontohi salah satu dari 4 golongan manusia ini. Jangan lupa, tetap istiqomah di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sunday, September 4, 2022
Bahaya Syirik Khafi (Syirik Tersembunyi) Rosakkan Iman
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
![]() |
| Syirik Khafi (Syirik Tersembunyi) |
Kita begitu yakin dan mengakui masih kebal iman dalam diri dan sama sekali tidak syirik terhadap Allah SWT apabila tidak pernah menyembah berhala dan apa jua dewa. Sebabnya perbuatan tersebut sudah diketahui umum boleh menyebabkan seorang Muslim menjadi murtad dan keluar dari Islam. Mudahnya, kebanyakan masyarakat Islam meletakkan perkara itu sebagai sempadan dari terjadinya hal yang merosakkan keimanan. Dan ada juga yang faham, hanya perbuatan sedemikian sahaja boleh sebabkan syirik.Itu syirik jali yang setiap umat Islam cuba elak daripada melakukannya kerana ia jelas dan nyata.
Menurut penerangan para Arifin Billah (pakar agama), antara sembahan-sembahan hati yang paling lumrah bagi manusia ialah:
i) penyembahan kepada nafsu/diri sendiri
ii) penyembahan kepada dunia dan perhiasannya
iii) penyembahan kepada pangkat dan kekayaan
iv) penyembahan kepada kedudukan dan jawatan
v) penyembahan kepada wanita (mengagungkannya)
vi) tawakal kepada kekuatan diri atau kekuatan makhluk
vii) tawakal kepada kehebatan sains dan teknologi dan lain-lain
Segelintir umat Islam menganggap syirik khafi sebagai perkara kecil sahaja. Namun pandangan sebeginilah yang mengundang bahaya yang lebih besar. Menurut tafsiran ulama-ulama tasawuf, syirik khafi walaupun tidak membatalkan iman namun memberi kesan kepada amal dan boleh merosakkan keimanan jika dibiarkan berlaku dan menjadi pakaian umat sehari-hari.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
Penyembahan kepada berhala-berhala hati ini juga menyebabkan manusia menjadi bongkak dan riak tanpa disedari. Terlalu yakin terhadap kelebihan diri sendiri. Perbuatan sebegini sebenarnya mengundang resah kepada Rasulullah sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya yang paling aku khuatirkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil (syirik khafi), riya’. Pada hari kiamat, ketika memberi balasan manusia atas perbuatannya, Allah berfirman, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian tujukan amalanmu kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah engkau dapati balasan di sisi mereka?” (Riwayat Imam Ahmad)
Benar dalam kehidupan, kita selalu memandang hal yang besar tanpa mempedulikan perkara-perkara kecil. Namun perlu diketahui yang kecil dan halus itulah lebih mudah menyerang dan merebak sehingga akhirnya kita terperangkap tanpa sedar. Sungguhpun syirik khafi tidak membatalkan iman seseorang, tetapi jika dibiarkan ia boleh mencederakan tauhid dan pengesaan terhadap Allah.
Jangan terlampau yakin bila kita tidak pernah menyembahkan tuhan lain selain Allah, kita bebas dari melakukan syirik. Ketahuilah bahawa perjuangan melawan sifat-sifat jahat dalam hati terutamanya syirik khafi adalah jihad sepanjang hidup. Jangan terhenti dari jihad ini kerana sejarah telah membuktikan manusia-manusia alim juga boleh tewas dengan rayuan iblis dan syaitan. Sehingga hati dan iman menjadi binasa.
Oleh itu berhati-hatilah dengan perbuatan, pengungkapan serta kata hati kita setiap hari. Apa jua yang terjadi dan berlaku semuanya atas kehendak dan kuasa Allah SWT jua. Bukan atas kehebatan dan keupayaan diri sendiri, benda mahupun makhluk lain yang sebenarnya tidak punya kuasa apa-apa!
![]() |
| 'Pegangan hati' Muqarrabin. Tauhid yang berpegang teguh bersandar pada Allah semata |
![]() |
| Pengajaran dan cabaran dari surah al Kahfi |
Yang juga termasuk dalam Syirik Khafi adalah jika jauh di lubuk hati kita terselip motivasi, hasrat, dan keinginan untuk dipuji oleh sesama mahluk. Inilah yang disebut sebagai riya' (pamer), sesuatu yang setara dengan sum'ah (perbuatan baiknya ingin didengar orang lain), kibir (merasa diri paling hebat), ujub (memandang tinggi diri sendiri), dan sebagainya yang masuk dalam kategori Syirik Khafi.
Syirik Khafi adalah syirik tersembunyi . Ternyata selama ini banyak sikap yang tidak kita sadari merupakan sebagian dari kategori Syirik Khafi. Sikap ujub, riya', sum'ah, dan kibir adalah bentuk dari Syirik Khafi.(DK)
Sunday, August 21, 2022
Berjalanlah menuju Allah dan Allah berlari ke arahmu
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
![]() |
| Berjalanlah menuju Allah |
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
Hadits ini adalah hadits qudsi, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta’ala (lafazh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maknanya dari Allah). Hadits ini adalah hadits yang amat mulia di mana berisi perkara mulia yang berkenaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu berisi pembicaraan sifat-sifat Allah.
1. Penetapan bahwa Allah memiliki sifat kalam (berbicara). Sebagaimana hal ini ditunjukkan pada hadits dalam perkataan “يَقُولُ اللَّهُ”.
2. Allah merealisasikan apa yang disangkakan hamba-Nya yang beriman. Sebagaimana hal ini adalah makna “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى” (Aku sesuai persangkaan hamba pada-Ku).
3. Hadits ini mengajarkan untuk berhusnuzhon (berprasangka baik) pada Allah. Yaitu setiap hamba hendaklah berprasangka pada Allah bahwasanya Dia maha pengampun, begitu menyayangi hamba-Nya, maha menerima taubat, melipatgandakan ganjaran dan memberi pertolongan bagi orang beriman. Berhusnuzhon pada Allah di sini dibuktikan dengan seorang hamba punya rasa harap dan rajin memohon do’a pada Allah.
4. Hadits ini menunjukkan sifat kebersamaan Allah dengan hamba-Nya (ma’iyyatullah). Dan sifat kebersamaan yang disebutkan dalam hadits ini adalah sifat kebersamaan yang khusus.
5. Dorongan untuk berdzikir pada Allah baik dalam keadaan bersendirian dan terang-terangan. Dzikir pada Allah ini bisa dilakukan dengan mengucapkan bacaan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tauhid (laa ilaha illalah), dan takbir (Allahu akbar). Jadi lafazh “فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ” (jika ia mengingat-Ku pada dirinya) bukanlah bermakna hamba tersebut mengingat Allah dalam hati tanpa dilafazhkan. Namun maknanya adalah hamba tersebut mengingat Allah dalam keadaan bersendirian tanpa ada yang mengetahui.
6. Allah akan menyebut-nyebut orang yang mengingat-Nya. Jika Allah menyebut-nyebut seperti ini, menunjukkan bahwa sebutan tersebut mengandung pujian dan kasih sayang Allah (rahma Allah) pada hamba tersebut.
7. Balasan sesuai dengan amalan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Hal ini dibuktikan pada ayat Al Qur’an,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS. Al Baqarah: 152). Dalam hadits di atas dibuktikan pula dalam lafazh,
فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
“Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).”
Juga dalam lafazh,
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”
8. Allah menyebut-nyebut hamba-Nya dengan kalam yang ia perdengarkan pada para malaikat yang Dia kehendaki. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam lafazh hadits,
ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
“…, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).”
Juga dikuatkan dalam hadits shahih lainnya,
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ
“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berkata, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.” (HR. Bukhari no. 7485 dan Muslim no. 2637).
9. Hadits ini menunjukkan dekatnya hamba pada Allah dan dekatnya Allah pada hamba-Nya.
10. Di antara nama Allah adalah: Al Qoriib Al Mujiib (Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan). Allah Ta’ala menyebutkan mengenai nabi-Nya, Sholih ‘alaihis salam,
فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
“Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbmu amat dekat lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS. Hud: 61). Sifat Allah dekat sebagaimana sifat Allah lainnya. Sifat ini tidaklah sama dengan kedekatan makhluk dan tidak diketahui kaifiyah (cara) kedekatan Allah tersebut.
11. Kedekatan Allah pada hamba itu bertingkat-tingkat. Ada hamba yang Allah lebih dekat padanya lebih dari yang lain.
12. Kedekatan hamba pada Allah bertingkat-tingkat pula. Ada hamba yang begitu dekat pada Allah lebih dari yang lain.
13. Kedekatan Allah didekati dengan penyebutan sesuatu yang terindra seperti dengan jengkal, hasta dan depa. Namun ini cuma secara maknawi yang menunjukkan Allah itu dekat.
14. “Harwalah” yang disebutkan dalam hadits bermakna berjalan cepat. Dari konteks hadits menunjukkan bahwa jika hamba dekat pada Allah, maka Allah akan semakin dekat pada hamba.
Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk semakin dekat dengan-Nya dan selalu mengingat-Nya di kala sendirian maupun di kumpulan orang banyak. Wallahu waliyyut taufiq.
(*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah. Beliau seorang ulama senior yang sangat pakar dalam akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (29 Rajab 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulan oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.
Dalam Al-Quran surat Luqman, ayat 15, Allah juga berfirman: “Ikutilah jalan orang yang kembali pada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Kulah kembalimu. Lalu Aku memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Dalam karya monumentalnya, Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jawziyah menerangkan, langkah awal dari berlari kepada Allah ini meliputi tiga hal. Berlari dari kejahilan menuju ilmu, berlari dari kemalasan menuju semangat, dan berlari dari sesaknya dada menuju kelapangannya.
Sumber
Friday, August 12, 2022
Perbanyak istighfar dan menjemput rahmat Allah
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
![]() |
| Perbanyak istighfar |
Istighfar dapat dilafalkan sebelum dan sesudah shalat atau juga di akhir malam. Hal inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir malam mereka beristighfar (memohon ampun) kepada Allah.” (QS Adz Dzaariyat [51]: 17-18)
Berapa kalikah seharusnya seseorang melafalkan istighfar dalam sehari? Rasulullah saw sendiri beristighfar sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari padahal baginda adalah ma'sum. Baginda menyatakan : “Sesungguhnya, aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR Bukhari)
Tidak hanya itu, bahkan baginda melafalkan istighfar dengan lengkap sebagai wujud kesyukurannya kepada Allah SWT, meskipun secara pribadi baginda adalah orang yang ma’sum (terbebas dari salah dan dosa). Dalam salah satu hadisnya Rasulullah saw menyebutkan, “Ya Allah, ampunilah bagiku dosa-dosaku yang telah lalu dan akan datang, yang tersembunyi dan tampak, dan apa yang Engkau lebih ketahui dariku. Engkau-lah Zat yang Mahapendahulu dan Zat yang Mahapengakhir. Dan, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari)
Rabiatu; Adawiyah, wanita sufi dalam sejarah Islam juga mempertegaskan dalam ucapannya, “ kita memerlukan istighfar yang banyak.” Dengan memperbanyak istighfar, selain sebagai saranan mengingat kepada Allah sang Maha pencipta juga untuk memohon ampun kepada-Nya; dapat mengingatkan hakikat diri sebagai makhluk-Nya yang lemah, tiada terlepas dari salah dan dosa; memberikan jalan keluar dari segala bentuk kesusahan dan kesempitan; dan mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Allah sengaja mendatangkan pelbagai masalah untuk melihat sejauh mana kita menyelesaikannya. Adakah kita menjadi seorang yang merintih dengan masalah atau berusaha mencari jalan penyelesaian?
Para ulama yang dekat dengan cara fikir al-Quran dan al-Sunnah cukup memahami hakikat kehidupan ini. Ibnu Kathir berpesan, “Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini iaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan:
- Memudahkan rezekinya
- Memudahkan urusannya
- Menjaga kekuatan jiwanya
Ibnu Qayyim pula berkata: “Apabila engkau berdoa, sementara waktu yang dimiliki begitu sempit, padahal dadamu dipenuhi dengan begitu banyak keinginan, maka jadikanlah seluruh isi doamu istighfar, agar Allah mengampunkan kamu. Apabila engkau diampuni, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.”
Lazimnya lafaz istighfar itu diungkapkan sebagai zikir untuk memohon keampunan kepada Allah. Ia juga dilafazkan selepas kita tersedar daripada melakukan dosa.
Harapan kita tentu sekali supaya dosa kita dihapuskan. Namun, manfaat istighfar lebih jauh daripada itu.
Rasul shallallahu’alaihiwasallam juga menjelaskan bahwa manfaat dari memperbanyak Istigfar. Tak hanya mampu memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, istighfar merupakan salah satu kunci rezeki.
Suatu hari Baginda Nabi Muhammad SAW didatangi Jibril, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar sebesar satu jari, di situ juga Allah SWT menumbuhkan satu pohon delima, setiap malam delima itu berbuah satu delima.
Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi dan berwudhu pada mata air tersebut. Lalu ia memetik buah delima untuk dimakannya, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dan dalam shalatnya ia berkata: “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan bersujud dan supaya badanku tidak tersentuh oleh bumi dan lainnya, sampai aku dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud”.
Maka Allah SWT menerima doa hambanya tersebut. Aku (Jibril) mendapatkan petunjuk dari Allah SWT bahwa hamba Allah itu akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud. Maka Allah SWT menyuruh: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.
Maka Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Untuk yang ketiga kalinya Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut pun berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.
Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu. (HR Sulaiman Bin Harom, dari Muhammad Bin Al-Mankadir, dari Jabir RA).
Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah SWT, bukan karena banyaknya amal ibadah. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal ibadah yang kita lakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, puasa, dan amalan-amalan lainnya tidak ada arti? Jangan salah persepsi. Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia, amal ibadah adalah sebuah proses atau alat untuk menjemput rahmat Allah SWT. Karena rahmat Allah tidak diobral begitu saja kepada manusia. Akan tetapi, harus diundang dan dijemput.
Rasulullah SAW mengajarkan kepala umatnya beberapa cara agar rahmat Allah itu bisa diraih.
07. membaca, menghafal, dan mengamalkan Alquran (QS al-An'am [6]: 155).
KEUTAMAAN SHOLAT TASBIH
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Bacaan ta...





%20copy.jpg)


